Hidran Tertimbun Cor Proyek Jalan Majapahit, Damkar dan PDAM Semarang Segera Audit 79 Titik

Petugas saat mengecek hidran tertimbun material cor akibat proyek perbaikan jalan di Jalan Majapahit
PERIKSA: Petugas saat mengecek hidran tertimbun material cor akibat proyek perbaikan jalan di Jalan Majapahit, belum lama ini. (DOK. DAMKAR/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Kasus hidran tertimbun cor akibat proyek perbaikan jalan di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, memantik respons serius dari otoritas terkait. Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Moedal sepakat menjadikan insiden ini momentum untuk evaluasi total infrastruktur proteksi kebakaran kota.

Pasca kejadian yang terjadi pada Rabu (7/1), kedua instansi berencana menggelar rapat koordinasi khusus dalam waktu dekat. Fokus utamanya adalah sinkronisasi data agar kesiapsiagaan pemadaman di wilayah perkotaan tidak terganggu oleh pengerjaan proyek fisik.

Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengapresiasi langkah taktis PDAM yang langsung terjun ke lapangan begitu menerima laporan adanya hidran yang tertutup material proyek.

”Setelah kami cek di lapangan, selang beberapa jam langsung ditangani dan digeser. Respons PDAM sangat cepat. Yang menjadi catatan kami justru soal komunikasi di lapangan, terutama dari pihak kontraktor,” ujar Ade saat dikonfirmasi, Rabu (7/1).

Kontraktor Abaikan Koordinasi

Ade menyayangkan minimnya koordinasi dari pelaksana proyek sebelum melakukan pengecoran. Padahal, menurutnya, PDAM sudah dilibatkan sejak tahap pra-pelaksanaan proyek di tingkat perencanaan bersama DPU BMCK Jawa Tengah.

Ia menegaskan, kendala teknis di lapangan seharusnya dikomunikasikan terlebih dahulu, bukan langsung ditimpa material bangunan.

”Kalau ada kendala di lapangan, seharusnya dikomunikasikan terlebih dahulu, bukan dipindah lalu dicor. Pemindahannya sebenarnya cepat dan tidak sulit,” kritiknya.

Audit Menyeluruh 79 Titik Hidran

Buntut dari kejadian ini, Damkar dan PDAM akan menyelaraskan data kondisi riil seluruh hidran di Kota Semarang. Ade menyebut ada sekitar 79 titik hidran yang datanya perlu divalidasi ulang.

Permasalahan yang kerap ditemui di lapangan antara lain:

  • Titik hidran ada dalam data, namun fisiknya tidak ditemukan.
  • Debit air tidak maksimal untuk pengisian tangki.
  • Kran hidran macet atau tidak bisa dibuka.

”Kami punya data, PDAM juga punya data. Dari total 79 titik, semuanya sudah kami data dan akan kami paparkan satu per satu,” ungkap Ade.

Ke depan, Ade berharap bukan hanya kuantitas atau jumlah hidran yang bertambah, tetapi juga kualitasnya. Tekanan dan debit air menjadi kunci vital agar proses pengisian tangki mobil pemadam bisa berjalan cepat saat kondisi darurat. (hfh/gih)