Turun 23 Persen, Ini Strategi KAI Daop 4 Semarang Tekan Kecelakaan di Perlintasan

Petugas KAI Daop 4 Semarang melakukan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang kepada pengendara motor
BERI PEMAHAMAN: Suasana petugas KAI Daop 4 Semarang bersama pihak terkait melakukan sosialisasi edukasi lalu lintas perkeretaapian, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 atau KAI Daop 4 Semarang melaporkan penurunan angka kecelakaan kereta api yang signifikan sepanjang tahun 2025. Capaian ini merupakan buah dari intensifikasi edukasi keselamatan dan penutupan puluhan perlintasan liar yang dilakukan secara masif.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif mengungkapkan, risiko kecelakaan di titik rawan atau perlintasan sebidang masih menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, pihaknya menggandeng TNI, Polri, komunitas railfans, serta unsur kewilayahan untuk menggelar ratusan kegiatan sosialisasi langsung di lapangan.

Gencarkan 351 Kegiatan Sosialisasi

Tercatat, sebanyak 351 kegiatan sosialisasi lapangan telah digelar sepanjang tahun 2025. Edukasi ini menyasar langsung para pengguna jalan yang kerap menerobos palang pintu atau melintas sembarangan, meski kereta api memiliki prioritas perjalanan sesuai undang-undang.

“Edukasi langsung ini menjadi langkah nyata kami agar masyarakat memahami bahaya di perlintasan. Kereta api tidak bisa berhenti mendadak, sehingga kedisiplinan pengendara sangat menentukan,” ujar Luqman, Jumat (23/1/2026).

Selain menyasar pengendara di jalan raya, KAI juga masuk ke lingkungan pendidikan. Sebanyak 24 kali sosialisasi digelar di sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman dini kepada pelajar mengenai bahaya bermain atau beraktivitas di area rel kereta api.

Tutup 21 Perlintasan Liar

Tidak hanya pendekatan persuasif, KAI Daop 4 Semarang bersama pemerintah daerah juga mengambil langkah tegas secara fisik. Sepanjang 2025, sebanyak 21 perlintasan sebidang liar berhasil ditutup atau dipersempit aksesnya.

Luqman menilai, perlintasan tanpa izin resmi tersebut menjadi salah satu faktor dominan terjadinya kecelakaan karena minimnya fasilitas keselamatan yang memadai.

“Penutupan perlintasan liar adalah langkah tegas untuk melindungi masyarakat. Banyak kecelakaan terjadi karena pengendara melintas dari jalur tidak resmi,” tegasnya.

Angka Kecelakaan Turun 23 Persen

Kombinasi antara edukasi masif dan penindakan fisik menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data KAI Daop 4 Semarang, angka kecelakaan di perlintasan sebidang mengalami penurunan sebesar 23 persen.

  • Tahun 2024: 26 kasus kecelakaan.
  • Tahun 2025: 20 kasus kecelakaan.

Meski tren menurun, KAI terus memperkuat kewaspadaan dengan memasang spanduk peringatan di titik-titik rawan. Luqman menekankan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab operator kereta api, melainkan tanggung jawab bersama seluruh pengguna jalan.

“Keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab KAI, tetapi juga perlu dukungan dan kedisiplinan seluruh masyarakat. Selama pengendara patuh pada rambu dan etika berlalu lintas, risiko kecelakaan dapat ditekan,” pungkasnya. (hfh/iza)