KENDAL, Joglo Jateng – Ratusan pengrajin tahu tempe memadati Gedung MWC NU Weleri, Kabupaten Kendal, Sabtu (7/2). Di tengah agenda Rapat Anggota Tahunan (RAT) Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) ‘Harum’, mencuat kekhawatiran serius terkait ketahanan pangan nasional.
Indonesia dinilai masih sangat rentan terhadap guncangan pasokan kedelai. Pasalnya, sekitar 90 persen kebutuhan kedelai dalam negeri masih bergantung pada impor dari Amerika Serikat (AS).
Bergantung pada Politik Global
Ketua Primkopti Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro menyoroti tata kelola kedelai nasional yang dinilai belum berpihak pada kemandirian. Menurutnya, menyerahkan perdagangan kedelai sepenuhnya pada mekanisme pasar swasta membuat harga bahan baku sulit dikendalikan.
“Pemerintah harus turun tangan. Selama ini kedelai diserahkan ke swasta murni sehingga harganya tidak terkendali. Padahal tanah kita luas,” tegas Sutrisno.
Ia juga memberikan peringatan keras mengenai dampak situasi politik global terhadap perut rakyat Indonesia. Ketergantungan pada satu negara eksportir (AS) dinilai sangat berisiko.
“Kalau Presiden Donald Trump ngambek, bisa-bisa kita se-Indonesia bisa tidak makan tahu tempe,” ujarnya memberi analogi.










