Kudus  

BPBD Kudus Siaga Hadapi Ancaman El Nino 2026, Waspadai Cuaca Ekstrem

Sekretaris BPBD Kudus Syarif Hidayah sedang memberikan keterangan terkait langkah antisipasi ancaman El Nino 2026 di Kabupaten Kudus.
Sekretaris BPBD Kudus Syarif Hidayah. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus resmi meningkatkan status kesiapsiagaan guna menghadapi ancaman fenomena El Nino 2026 yang diprediksi berlangsung dari April hingga Oktober. Peralihan cuaca yang terasa ekstrem belakangan ini mulai menuntut kewaspadaan lebih dari masyarakat setempat.

Langkah antisipasi ini diambil untuk merespons peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Data memprediksi peluang terjadinya anomali cuaca ini mencapai angka 60 persen pada tahun ini.

Sekretaris BPBD Kudus, Syarif Hidayah menegaskan bahwa pihaknya telah bergerak cepat sejak awal April. Fokus utama mereka saat ini meliputi pengecekan peralatan darurat, patroli lapangan secara rutin, dan koordinasi intensif dengan seluruh aparat desa.

“Jadi kami nanti pasti BPBD tetap dengan meningkatkan kesiapan-kesiapan dan menampung banyak informasi,” ungkap Syarif pada Rabu (1/4/2026).

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Kekeringan

Syarif menjelaskan, Kabupaten Kudus kini berada dalam masa pancaroba yang sangat fluktuatif. Cuaca tak menentu kerap memicu hujan lebat mendadak yang disertai angin kencang di satu area, sementara titik wilayah lainnya terpantau kering.

“Ini memasuki musim peralihan. Sesuai data statistik, terjadi situasi cuaca yang tidak bisa diprediksi, artinya ada anomali cuaca. Tiba-tiba hujan deras sekali, angin kencang, tapi di tempat lain biasa saja,” paparnya.

Untuk mempercepat mitigasi, tim asesmen bencana telah disiagakan di lapangan. Mereka bertugas merespons insiden darurat secara sigap, termasuk potensi kerusakan akibat angin kencang maupun gangguan infrastruktur publik.

Selain cuaca ekstrem pancaroba, dampak El Nino diyakini akan memperparah krisis air bersih pada pertengahan tahun. Skema distribusi air bersih darurat ke berbagai zona rentan telah disiapkan secara matang.

“Nanti kalau sudah masuk bulan Juli, itu musim kering. Antisipasinya tentu kekeringan, dan kami sudah siapkan koordinasi dengan desa-desa. Kalau ada kekeringan segera informasikan,” tuturnya.

Waspada Kebakaran Lahan

Fokus mitigasi rupanya tidak berhenti pada ancaman kekeringan saja. Syarif memperingatkan masyarakat mengenai tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan yang mayoritas dipicu oleh aktivitas manusia, terutama kebiasaan membakar sampah sembarangan.

Edukasi kepada masyarakat terus digencarkan melalui berbagai kanal informasi, termasuk pemanfaatan media sosial. Hal ini bertujuan untuk menekan angka kelalaian yang bisa berujung pada bencana besar.

“Kami ingin masyarakat tidak membakar sampah. Karena selain tidak sesuai aturan, juga berpotensi merambat. Kalau sampai ke permukiman, yang rugi bukan hanya satu orang,” tegas Syarif.

Seringkali, kebakaran hebat bermula dari kecerobohan kecil yang disepelekan oleh warga sekitar dan tanpa disengaja membesar terbawa angin.

“Tidak ada niatnya membakar lahan tebu, tapi ketika merambat ke pemukiman, itu yang menjadi masalah besar,” pungkasnya. (uma/ree/rds)