Jepara  

Pengukir Perempuan di Jepara Kian Menyusut, Regenerasi Jadi Tantangan Serius

TELITI: Pelajar cilik perempuan di Jepara belajar mengukir dalam peringatan Hari Kartini sebagai upaya regenerasi seni ukir di belakang Pendopo R.A. Kartini, Selasa (21/4/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Identitas Kabupaten Jepara sebagai kota ukir kini menghadapi ancaman serius berupa krisis regenerasi seiring dengan terus menyusutnya jumlah pengukir perempuan.

Fenomena ini dipicu oleh rendahnya minat generasi muda, munculnya peluang kerja di sektor industri baru, hingga perubahan tren pasar mebel global yang cenderung bergeser ke desain minimalis.

Ketua Paguyuban Pengukir Jepara, Rumini (47) mengungkapkan bahwa saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 100 orang yang masih bertahan menekuni profesi sebagai pengukir perempuan Jepara.

Bahkan di wilayah asalnya, yakni Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, ia mengaku telah menjadi satu-satunya perempuan yang masih aktif memahat kayu.

“Di beberapa desa seperti Sukodono, Mantingan, dan Petekeyan memang masih ada, tapi jumlahnya terus berkurang,” ujarnya kepada Joglo Jateng, Rabu (22/4/2026).

Tergerus Pabrik Garmen dan Tren Polosan

Rumi menjelaskan bahwa rendahnya minat para generasi muda, khususnya kaum hawa, menjadi persoalan mendasar yang sulit dihindari.

Profesi pengukir dinilai kurang diminati karena dianggap kalah praktis dibandingkan dengan bekerja di sektor industri garmen atau jasa rumah tangga berbayar yang cepat menghasilkan uang.

Selain tantangan pelestarian kota ukir Jepara, pergeseran selera pasar mebel dunia turut memukul telak kelangsungan mata pencaharian para perajin.

Permintaan karya seni ukir di pasaran kini cenderung menurun tajam karena konsumen lebih menyukai furnitur dengan desain modern yang sederhana.

“Sekarang banyak pesanan yang polos, seperti kursi atau lemari polosan, tidak pakai ukiran. Ini berpengaruh ke pekerjaan kami,” katanya.