27 Persen Koperasi Merah Putih di Jateng Belum Beroperasi, Ini Penyebabnya

FORUM: Suasana kegiatan workshop bertajuk "Media Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna" di Kota Semarang, Rabu (6/5/2026). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sekitar 27 persen Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Jawa Tengah hingga kini masih dalam tahap perencanaan atau belum beroperasi. Kondisi tersebut menjadi fokus pendampingan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota agar seluruh koperasi dapat segera aktif dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.

Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy S. Bramiyanto, menyebutkan dari total 8.523 koperasi yang telah berbadan hukum, sebanyak 6.271 koperasi atau sekitar 73 persen sudah beroperasi. Capaian tersebut bahkan melampaui target nasional sebesar 60 persen.

“Kami sudah mencapai 73 persen atau 6.271 koperasi yang operasional. Tinggal sekitar 27 persen yang masih dalam proses perencanaan, dan ini menjadi tugas kami bersama kabupaten/kota untuk mendorong percepatannya,” ujarnya di sela kegiatan workshop bertajuk “Media Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna”, Rabu (6/5/2026).

Menurut Eddy, sejumlah kendala masih dihadapi koperasi yang belum berjalan, di antaranya potensi usaha yang belum tergarap optimal serta perlunya penguatan kolaborasi antara pengurus koperasi dengan pemerintah desa maupun kelurahan.

Selain itu, distribusi kebutuhan seperti pupuk dan elpiji juga dinilai masih perlu diperbaiki agar mendukung operasional koperasi.

“Satu adalah potensi usaha, kemudian yang kedua kolaborasi pengurus dengan pemerintah desa atau kelurahan harus lebih intens. Ini yang terus kami dorong agar koperasi bisa segera bergerak,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Digitalisasi Koperasi Kementerian Koperasi, Riza Azmi, menambahkan secara nasional program Koperasi Merah Putih telah memasuki fase kedua, yakni pembangunan dan operasional. Pada fase awal, pembentukan kelembagaan telah melampaui 80 ribu unit koperasi di seluruh Indonesia.

“Fase pertama sudah dilewati, sekarang masuk fase pembangunan dan operasional. Saat ini sudah ada sekitar 7.000 bangunan koperasi yang siap beroperasi, dan nanti ditargetkan ada 30.000 gerai koperasi yang akan diluncurkan pada Juli atau Agustus,” ungkapnya.

Riza mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan koperasi, terutama terkait pemerataan akses infrastruktur serta literasi digital masyarakat. Menurutnya, ketersediaan listrik dan internet menjadi faktor penting dalam mendukung koperasi modern berbasis digital.

“Kendalanya ada pada pemerataan akses, seperti listrik dan internet, serta tingkat literasi digital masyarakat yang belum merata. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama,” tandasnya. (hfh/iza/rds)