Jemput Bola ke Pelosok, Program Dokter Keliling di Purworejo Berhasil Jangkau Ribuan Warga

FASILITAS: Kantor Dinkesda Kabupaten Purworejo di Jalan Mayjen Sutoyo No. 17, Kelurahan Pangenjurutengah, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo. (MARNIE/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Program Spesialis Dokter Keliling atau Speling Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Purworejo terus tancap gas melayani warga hingga pelosok. Sejak diluncurkan, program unggulan dari Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi-Taj Yasin di Purworejo ini sudah menjangkau 21 desa di 12 kecamatan.

Total warga yang telah terlayani para dokter spesialis yang datang ke desa-desa sebanyak 3.455 orang. Kepala Dinkesda Kabupaten Purworejo, dr. Sudarmi mengatakan bahwa Speling tahun 2026 menargetkan 3.900 warga.

Artinya, capaian saat ini sudah mencapai 88,5 persen dari target tahunan. “Speling ini jawaban atas keluhan warga desa yang sulit mendapat akses dokter spesialis, kita jemput bola langsung ke desa,” kata dr. Darmi, sapaan akrabnya, Senin (11/5/2026).

Dari data yang masuk ke Dinkesda, Speling sudah dua kali menyambangi Kecamatan Bagelen, Bayan, Loano, Purworejo, Bruno, dan Gebang. Sementara Kecamatan Kaligesing, Kemiri, Pituruh, Purwodadi, Kutoarjo, dan Banyuurip masing-masing disambangi satu kali.

Lima dokter spesialis diterjunkan langsung, yakni spesialis obstetri dan ginekologi (obsgyn), penyakit dalam, anak, jiwa, dan paru. “Kasus yang paling banyak kita temukan hipertensi, diabetes, gangguan kehamilan risiko tinggi, ISPA, dan masalah kesehatan jiwa ringan,” jelasnya.

Ia menambahkan, anggaran untuk Speling tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara besar. “Anggaran Speling diintegrasikan dengan cek kesehatan gratis di puskesmas, untuk dokter spesialis dan obat ditanggung rumah sakit pelaksana,” ungkapnya.

Kolaborasi ini membuat layanan spesialis yang biasanya hanya ada di RSUD kini bisa dirasakan warga desa. Mereka bisa berobat tanpa perlu mengeluarkan biaya transportasi dan mengantre panjang.

Dengan sisa target sebanyak 445 warga, Dinkesda akan fokus ke desa terpencil dan belum terjangkau. “Kami prioritaskan daerah yang akses ke RSUD jauh, prinsipnya warga tidak boleh kesulitan karena alasan geografis,” tegas dr. Darmi.

Program Speling, imbuh dr. Darmi, menjadi salah satu kunci menekan angka kematian ibu, stunting, dan penyakit tidak menular di Purworejo. Kalau penyakit terdeteksi dini oleh spesialis, maka biaya pengobatan jangka panjang bisa ditekan.

“Speling ini investasi kesehatan,” pungkasnya. (mrn/ree/rds)