Oleh: Betari Imasshinta
Ketua Kopri PMII Jawa Tengah
SALAH satu ironi pendidikan di Indonesia ternyata memiliki akar yang tersistem. Sebagaimana sumber Ditjenkeslan Kemenkes menyatakan hingga 20% anak di Indonesia mengalami speech delay.
Sumber lain dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menyatakan 5 sampai 8% anak prasekolah mengalami keterlambatan bicara. Hal ini disebabkan oleh penggunaan gadget berlebih, kurangnya stimulan dari lingkungan, hingga lambatnya pertumbuhan anak.
Fakta di lapangan, sebagian besar ibu atau pengasuh anak lebih memilih memberikan gadget kepada anak. Tujuannya agar anak bisa tetap tenang sembari ibu atau pengasuh bisa melakukan aktivitas lain tanpa repot menggendong atau terganggu anak yang rewel.
Jika ditelisik, penyebab-penyebab tersebut berakar pada pola asuh, nilai gizi anak, hingga kondisi keluarga. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025 mencatat, 7,8 juta anak masih mengalami kekurangan gizi.
Sedangkan anak-anak yang kekurangan gizi dapat mengalami defisit kognitif dan perilaku yang menetap. Hal ini termasuk keterlambatan perkembangan bahasa dan keterampilan motorik halus.
Yang kemudian menjadi akar dari semuanya adalah kondisi keluarga. Bagaimana kondisi ekonominya, kuat atau rentan, hingga kondisi lingkungan sosialnya apakah mendukung kesehatan mental setiap anggota keluarga atau tidak.
Kerentanan atau ketidakstabilan ekonomi maupun sosial dalam keluarga, dapat mengakibatkan seorang perempuan dalam rumah tangga harus berpikir ganda. Mereka memikirkan bagaimana mempertahankan pengasuhan kepada anak bahkan anggota keluarga yang lain, sekaligus memikirkan ketahanan keluarga terhadap kebutuhan biaya hidup.
Banyak yang kemudian memilih menjadi pekerja perempuan. Sekuat apa pun ia berusaha menyeimbangkan peran, faktanya pekerja perempuan akan kehilangan banyak waktunya untuk bekerja penuh waktu di luar rumah.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendampingi atau menstimulasi pertumbuhan anak, terlebih di awal-awal usia kehidupannya, menjadi tersita. Realitas ini menegaskan bahwa terhadap kerentanan ekonomi masyarakat kita, perempuan dalam rumah tanggalah pihak yang paling terkena dampak.
Di waktu bersamaan, ia adalah pilar utama tumbuh kembang anak sekaligus pengelola kebutuhan keluarga. Untuk mengelola kondisi yang demikian, penulis mengusulkan beberapa hal.
Pertama, pendidikan gizi dan pemenuhan akses gizi terhadap masyarakat, khususnya bagi perempuan-perempuan dalam rumah tangga. Akses gizi bisa didapat dengan ketahanan pangan yang bersumber dari lingkungan atau terjangkau dari tempat tinggal.
Ketersediaan pangan yang melimpah, sehat dan kontinu adalah akses paling dibutuhkan oleh perempuan dalam rumah tangga. Khususnya, bagi mereka yang berada dalam tataran kerentanan ekonomi keluarga.
Tentu ketahanan pangan yang demikian bisa diciptakan sendiri oleh keluarga-keluarga yang membutuhkan. Salah satunya dengan pemanfaatan lahan untuk tanam dan ternak skala rumahan.
Nalar semu menempatkan masyarakat pada tuntutan mutlak memenuhi kebutuhan sekaligus gaya hidup. Kita sering kali melupakan tujuan serta fungsinya sebagai manusia sosial dan kolektif.
Demikian halnya mengupayakan kebutuhan gizi yang layak belum tentu menjadi prioritas keluarga. Sebab yang dipikirkan hanya bagaimana mendapat penghasilan untuk menyambung makan dan gaya hidup.
Kemampuan pemenuhan gizi keluarga, khususnya gizi anak, masih menjadi momok bagi sebagian besar rumah tangga. Baik karena akses sumber pangannya, kemampuan membeli pangan layak gizi, atau bahkan pengetahuan nilai dan sumber gizinya.








