Jepara  

Tradisi Malam 1 Suro di Sendang Bidadari Jepara, Ribuan Warga Rela Antre Basuh Wajah

TRADISI: Warga Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, berbondong-bondong membasuh wajah, mandi, dan mencuci pusaka di Sendang Bidadari saat menyambut tradisi malam satu Suro, Senin (15/6/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Tradisi menyambut malam satu Suro di Sendang Bidadari, Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, masih terus terjaga hingga kini. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kawasan sendang untuk mengikuti rangkaian ritual budaya dan keagamaan yang telah berlangsung turun-temurun.

Sejak malam hari, kedatangan warga tidak pernah terputus. Mereka berdatangan dari berbagai wilayah di Jepara maupun luar daerah seperti Kudus, Pati, hingga Grobogan untuk mengikuti tradisi yang menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Islam tersebut, Senin (15/6/2026) malam.

Di area sendang yang memiliki sumber air seluas sekitar 4 x 3 meter itu, pengunjung dari berbagai kalangan usia tampak mengantre. Warga berbondong-bondong membasuh wajah, mandi di sendang, hingga membawa pulang air yang diambil dari sumber mata air tersebut.

Selain itu, sejumlah penggiat budaya juga memanfaatkan momentum malam satu Suro untuk melakukan tradisi ngumbah gaman atau mencuci pusaka.

Warga Desa Daren, Ukriyana (40), mengatakan tradisi tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Karena itu, ia rutin datang setiap peringatan malam 1 Muharram.

“Setiap tahun memang orang-orang datang ke sini. Dipercaya bisa bikin awet muda, bikin ganteng kalau laki-laki dan cantik kalau perempuan. Tinggal cuci muka atau mandi di sini,” ujarnya.

Hal serupa dilakukan Ria (32), warga asal Sumatra Selatan yang kini menetap di Jepara setelah menikah. Ia mengaku tertarik mengikuti tradisi yang telah lama dijalankan masyarakat Desa Daren.

“Menarik ya, karena warga mempercayai air sendang ini sebagai keberkahan,” terangnya.

Sementara itu, Nana (28), warga Desa Karangnongko, juga mengaku hampir setiap tahun datang ke Sendang Bidadari bersama keluarganya. “Saya dari Karangnongko, setiap tahun ke sini, tak terhitung. Percaya akan berkah, sehingga setiap tahun saya datang, biar lebih baik dan berkah,” katanya.