Ratusan Tahun Terjaga! Begini Sakralnya Prosesi Jamasan Pusaka Cokronegoro di Purworejo

PUSAKA: Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyerahkan keris kepada penjamas. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) menggelar tradisi Jamasan Tosan Aji di Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa 1960 Saka.

Prosesi jamasan dilakukan terhadap sejumlah pusaka bersejarah. Di antaranya keris dan mata tombak milik Bupati pertama Purworejo, Cokronegoro, serta Keris Jalak Tilam koleksi Museum Tosan Aji.

Selain itu, ada pula Keris Songsong Drajat dengan Pamor Pemimpin milik keturunan Cokronegoro I yang ikut dijamas.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi, Wakil Ketua DPRD Rudi Hartono, Kapolres AKBP Widhy Safutra, dan perwakilan unsur Forkopimda yang lain serta tamu undangan.

Selain jamasan, dalam prosesi itu juga ditampilkan aneka kesenian lokal. Kesenian tersebut seperti tari Saparan, Cingpoling, dan wayang kulit gagrak Bagelenan.

BUDAYA: Bupati Purworejo Yuli Hastuti didampingi Wabup Dion Agasi dan diiringi jajaran Forkopimda menuju lokasi Jamasan Tosan Aji. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

Kepala Dindikbud Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno mengatakan, jamasan tidak sekadar membersihkan pusaka secara fisik. Namun juga memiliki makna mendalam sebagai sarana merawat warisan leluhur dan refleksi diri menyambut tahun baru Jawa.

“Kami mengadakan kegiatan Jamasan Tosan Aji sebagai bentuk melestarikan budaya leluhur. Selain merawat fisik pusaka, kegiatan ini juga mengandung makna agar kita peduli dan mampu nguri-uri budaya yang diwariskan para pendahulu,” katanya, Kamis (18/6/2026).

Menurut Yudhie, tradisi jamasan mengajarkan masyarakat untuk menengok masa lalu sebagai bahan evaluasi sekaligus mempersiapkan langkah yang lebih baik di masa depan.

“Dengan membersihkan pusaka, secara filosofis kita juga diajak membersihkan diri, mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan mempersiapkan diri menyongsong tahun baru dengan lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pusaka peninggalan Cokronegoro yang dijamas diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun.