KUDUS, Joglo Jateng – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pembayaran digital, salah satu pedagang kaki lima (PKL) di Kabupaten Kudus membuktikan bahwa usaha kuliner tradisional tetap mampu bertahan dengan mengikuti perubahan zaman. Warung penyetan milik Eriyan Candra Wahyu Ramadhan yang telah berdiri sejak 2001 kini semakin mudah dijangkau pelanggan berkat layanan pembayaran digital QRIS BRI.
Selama lebih dari dua dekade berjualan, warung penyetan tersebut telah mengalami beberapa kali perpindahan lokasi. Awalnya, usaha ini berada di kawasan depan penjara dekat perempatan lampu merah Jalan Sunan Kudus. Seiring penataan kawasan dan perkembangan usaha, lokasi kemudian berpindah ke trotoar samping penjara pada 2008.
Ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020, Eriyan kembali memindahkan tempat usahanya ke Gang 1 Jalan Kutilang. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi kerumunan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Setelah kondisi kembali normal, warung penyetan tersebut akhirnya menetap di kawasan dekat Alun-Alun Kudus. Lokasi baru itu dinilai lebih strategis dan mudah dijangkau pelanggan dari berbagai wilayah.
Meski beberapa kali berpindah tempat, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen menjaga cita rasa dan harga yang terjangkau. Berbekal konsep penyetan sederhana khas Lamongan, warung ini tetap menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati menu makan malam dengan harga ramah di kantong.
“Yang kami jaga bukan hanya rasa, tetapi juga harga agar tetap terjangkau bagi semua kalangan,” kata Eriyan.
Berbagai menu ditawarkan dengan harga mulai Rp 8 ribu hingga Rp 17 ribu. Paket hemat atau pahe menjadi menu yang paling banyak diminati pelanggan. Pilihannya beragam, mulai dari nasi ayam, lele, tahu, tempe, hingga telur dengan sambal khas yang menjadi andalan warung tersebut.
Dalam tiga tahun terakhir, Eriyan mulai mengadopsi sistem pembayaran digital melalui QRIS BRI. Kehadiran layanan tersebut dinilai mampu memberikan kemudahan baik bagi pembeli maupun penjual.
“Sebagai penjual, saya merasa lebih mudah karena pelanggan bisa membayar pas tanpa repot soal uang kembalian,” ujarnya.
Menurutnya, meskipun transaksi tunai masih mendominasi, penggunaan QRIS terus meningkat dari waktu ke waktu. Saat ini, sekitar 30 persen pelanggan memilih pembayaran digital karena lebih praktis dan cepat.
“Setiap hari ada sekitar lima sampai sepuluh transaksi menggunakan QRIS. Kebanyakan anak muda dan pekerja yang memilih cara ini,” katanya.
Warung yang buka setiap hari mulai pukul 16.00 WIB tersebut biasanya mulai ramai menjelang malam. Selain pelanggan dari Kudus, sejumlah pembeli dari luar daerah juga mulai mengenal warung ini melalui promosi di media sosial, terutama TikTok.
Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Kabupaten Kudus, Mudloha, mengatakan bahwa digitalisasi pembayaran menjadi langkah penting bagi para pedagang untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Menurutnya, penggunaan QRIS tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat.
“Sekarang masyarakat ingin serba cepat dan praktis. Karena itu kami mendorong para PKL memanfaatkan QRIS agar usaha mereka semakin berkembang dan mampu bersaing di era digital,” ujar Mudloha.
Ia berharap semakin banyak pedagang kaki lima di Kudus yang memanfaatkan teknologi pembayaran nontunai sehingga dapat memberikan kenyamanan lebih bagi pelanggan sekaligus mendukung pertumbuhan usaha mereka di masa depan. (adm/rds)










