KUDUS, Joglo Jateng – Puskesmas Rendeng punya cara istimewa dalam menangani penyakit yang kerap menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, yaitu HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC). Alih-alih menyingkirkan pasien, puskesmas justru menerapkan pendekatan manusiawi, penuh kehati-hatian, dan berbasis nilai keagamaan.
Kepala Puskesmas Rendeng, drg. Arie Sulistiyoningrum, M.K.M., menyampaikan, angka kasus kedua penyakit ini masih tercatat ada namun penyebarannya bisa dikendalikan dengan baik. Kuncinya ada pada menjaga kerahasiaan agar pasien tidak dikucilkan lingkungan, namun tetap rutin mendapatkan pengobatan dan edukasi.
“Kalau di kota itu relatif aman, cuman penyakit yang masih tercatat cukup tinggi itu HIV, terus TB paru. Penyakit HIV enggak boleh sembarangan dibicarakan ke publik, takutnya nanti dia menimbulkan stigma negatif dari masyarakat. Tapi kita juga harus menjaga supaya penyakit ini enggak tersebar luas,” ujarnya.
Penyuluhan kesehatan tidak dilakukan di tempat terbuka atau ruang pertemuan resmi yang kaku. Tim kesehatan bersama dokter muda pengabdian mengundang kelompok berisiko berkumpul di tempat santai seperti kafe atau lokasi pertemuan yang membuat mereka nyaman.
“Kita kasih pengertian ke orang yang sakit, ‘kamu bisa sehat lagi dengan cepat kalau dirawat dan dijaga kondisinya begini’. Kita pantau obatnya, gizinya, pola hidupnya. Ini sudah berjalan lama supaya angka penularan bisa ditekan,” ungkapnya.
Arie menjelaskan, kasus penularan HIV di wilayah Kudus lebih banyak terjadi pada kelompok tertentu akibat perilaku seksual menyimpang dan jarang menular pada masyarakat biasa. Hal ini memudahkan petugas kesehatan memfokuskan edukasi ke sasaran yang tepat.
“Kalau masyarakat umum yang remaja atau keluarga biasa, jarang sekali. Alhamdulillah kita di lingkungan sini enggak ada lokalisasi, jadi penyebarannya masih terkontrol dan aman,” jelasnya lagi.
Ia juga memberikan pesan tegas yang disampaikan khusus untuk anak muda dan remaja Kudus. Di tengah arus informasi bebas zaman sekarang, menjaga diri dan memegang teguh nilai agama adalah benteng paling ampuh agar masa depan cerah tidak terancam masalah kesehatan.
“Intinya harus menjaga diri, hindari hubungan seks bebas. Kalau sudah berumah tangga ya cukup dengan pasangannya sendiri,” pesannya tegas.
Terutama bagi anak perempuan, lanjutnya, harus lebih berhati-hati. Melalui program konseling remaja khusus, pihaknya terus memberikan pengertian tentang kesehatan reproduksi dan bahaya seks bebas.
“Kalau sebelum waktunya terlibat hubungan sembarangan, nanti akan menggantungkan cita-citamu, menunda masa depanmu, dan rugi dalam kesehatan reproduksi. Kita punya layanan konseling remaja khusus, kita kasih pengertian ruginya apa saja supaya mereka sadar,” tambah Arie menutup perbincangan. (cr1/fat/rds)










