Batang  

DPRD Batang Ingatkan Pemkab Libatkan Penjahit Lokal dalam Pengadaan Seragam Gratis

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Batang, Tofani Dwi Arieyanto. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – DPRD Kabupaten Batang mengingatkan pelaksanaan program seragam gratis bagi siswa baru SD dan SMP.

Program ini harus tetap mengacu pada arahan Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, yakni melibatkan penjahit lokal, UMKM konveksi, dan pengrajin di sekitar sekolah.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Batang, Tofani Dwi Arieyanto mengatakan, program yang dibiayai Pemerintah Kabupaten Batang tersebut tidak hanya bertujuan meringankan beban orang tua siswa.

Program ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program ini harus dijalankan sesuai arahan Bupati. Penjahit lokal, UMKM konveksi, maupun pengrajin di sekitar sekolah harus diberi kesempatan ikut berpartisipasi dalam pengadaan seragam gratis,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Batang, Kamis (9/7/2026).

Menurut Tofani, seluruh pelaku UMKM perlu memperoleh kesempatan yang sama agar manfaat program tidak hanya dirasakan peserta didik.

Program ini juga harus mampu menggerakkan perekonomian daerah.

Ia mengingatkan agar pengadaan seragam tidak hanya menguntungkan pelaku usaha besar.

“Jangan sampai pengusaha besar yang menikmati program ini, sementara penjahit kecil dan UMKM hanya menjadi penonton,” katanya.

Ia menilai program seragam gratis memiliki manfaat ganda, yakni membantu kebutuhan siswa sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi penjahit lokal, konveksi kecil, maupun masyarakat yang memiliki keterampilan menjahit.

Sejumlah penjahit di Kecamatan Batang, Subah, Banyuputih, Bawang, hingga Bandar sebelumnya mengaku belum mendapat kesempatan terlibat dalam pengadaan seragam gratis.

Mereka berharap pemerintah daerah mengevaluasi pelaksanaan program agar semangat pemberdayaan UMKM benar-benar terwujud.

Sebelumnya, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menegaskan program seragam gratis dilaksanakan melalui mekanisme Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda).

Dalam pelaksanaannya, sekolah didorong melibatkan penjahit di sekitar lingkungan sekolah melalui pengukuran langsung kepada siswa.

Langkah ini dilakukan sehingga seragam sesuai ukuran sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. (fan/ree/rds)