12 SMP di Pinggiran Banjarnegara Krisis Siswa Baru, Ini Langkah Dindikpora

PENDIDIKAN: Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dindikpora Kabupaten Banjarnegara sebut ada 12 SMP krisis siswa baru. (FAJAR ARI WIBOWO/JOGLO JATENG)

BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Banjarnegara mengevaluasi terkait pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan kuota siswa yang cukup mencolok, memicu dinamika tersendiri di berbagai wilayah.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah pada Dindikpora Kabupaten Banjarnegara, Doko Harwanto mengungkapkan, sedikitnya ada 12 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banjarnegara yang kuota daya tampungnya belum terpenuhi secara maksimal.

Fenomena kekosongan ini mayoritas melanda sekolah swasta serta sekolah negeri yang berada di wilayah pinggiran atau perbatasan.

Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh pihak dinas, terdapat beberapa wilayah kecamatan di kawasan perbatasan yang hingga kini masih kekurangan warga belajar baru.

Di antaranya yakni Kecamatan Pagedongan, Kecamatan Pagentan, Kecamatan Purwareja Klampok, dan Kecamatan Susukan.

Doko memaparkan, kondisi ini dipicu oleh anomali perubahan perspektif di tengah masyarakat.

Saat ini, muncul tren kuat di mana orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren atau sekolah di luar kota. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya penurunan jumlah lulusan SD/MI secara signifikan di wilayah-wilayah terkait.

Menyikapi banyaknya bangku kosong ini, Dindikpora Kabupaten Banjarnegara mengambil langkah diskresi demi menyelamatkan hak pendidikan anak-anak.

“Dindikpora masih memberikan kelonggaran pendaftaran bagi sekolah yang kekurangan murid hingga batas akhir cut-off Dapodik pada 31 Agustus 2026,” paparnya, belum lama ini.

Di sisi lain, SPMB tahun ini juga menyisakan kendala psikologis yang berat bagi sebagian masyarakat.