SD Negeri di Semarang Sepi Peminat, Pemkot Belum Jadikan Merger Opsi Utama

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sejumlah Sekolah Dasar (SD) negeri di Kota Semarang mengalami kekurangan peminat pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027. Bahkan, beberapa sekolah hanya menerima murid baru dengan jumlah yang dapat dihitung dengan jari.

SD Negeri Wonodri Semarang tercatat hanya menerima delapan siswa baru pada tahun ajaran ini. Sementara itu, SD Negeri Purwoyoso 1 Semarang hanya mendapatkan tiga siswa baru.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Pihaknya kini mengevaluasi daya tarik sekolah negeri di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah swasta.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, persoalan minimnya peminat di sejumlah SD negeri bukan disebabkan oleh menurunnya jumlah penduduk usia sekolah. Menurutnya, jumlah anak usia sekolah di Kota Semarang masih mengalami pertumbuhan positif.

“Kalau sekarang posisinya jumlah anak SD masih ada. Bukan menuju zero (pertumbuhan penduduk),” ujar Agustina saat ditemui di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (13/7/2026).

“Hanya memang sekolah yang disiapkan oleh swasta lebih banyak dan masyarakat sekarang punya pilihan,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang membuat orang tua lebih memilih sekolah swasta adalah kelengkapan fasilitas yang tersedia. Menurutnya, sebagian SD negeri masih tertinggal dalam penyediaan sarana pendukung pembelajaran dibandingkan sekolah swasta.

“Dinas Pendidikan menangkap, mengapa orang tua lebih suka menyekolahkan anak SD-nya di swasta? Karena fasilitas swasta lebih lengkap,” katanya.

“Maka mereka mengusulkan kepada saya agar fasilitas SD negeri diperbaiki,” sambungnya.

Agustina menyebut peningkatan fasilitas menjadi salah satu langkah yang tengah disiapkan Pemkot Semarang agar SD negeri kembali diminati masyarakat. Perbaikan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari sarana pembelajaran, fasilitas digital, hingga peningkatan kualitas sekolah.

“Bangkunya diperbaiki, internetnya ditingkatkan, dan fasilitas lainnya. Survei membuktikan orang tua nyaman kalau anak-anak sekolah di tempat yang fasilitasnya canggih,” ungkapnya.

“Sementara sebagian besar SD kita kalah canggih dengan SD swasta,” lanjut Agustina.

Terkait kemungkinan penggabungan atau merger terhadap SD negeri yang sepi peminat, Agustina menyebut langkah tersebut belum menjadi pilihan utama. Pemkot Semarang masih melakukan kajian terhadap kondisi masing-masing sekolah sebelum menentukan kebijakan lanjutan.

“Kalau memang SD-nya sepi peminat, merger bukan pilihan pertama. Kita masih melihat, karena kita punya guru yang bisa ditingkatkan kualitasnya,” tegasnya.

“Tinggal fasilitasnya yang perlu di-upgrade,” pungkasnya. (hfh/gih/rds)