BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sawal Bersatu di Desa Sawal saat ini tengah berjuang menjaga konsistensi produksi di tengah kepungan cuaca pancaroba yang ekstrem.
Tidak hanya faktor alam, fluktuasi harga pasar yang memicu lonjakan harga pakan operasional kini menjadi tantangan utama. Hal tersebut harus dihadapi oleh jajaran pengurus baru di tingkat tapak.
Meskipun demikian, manajemen BUMDes tetap optimistis menjaga keberlangsungan usaha peternakan bebek petelur ini. Yakni melalui optimalisasi perawatan kandang dan rencana hilirisasi produk pascapanen.
Pengelola sekaligus Sekretaris BUMDes Sawal Bersatu, Wahyu Setiyani menceritakan, usaha peternakan ini awalnya digulirkan pada akhir 2025. Pihaknya mendatangkan populasi bebek gelombang pertama sebanyak 700 ekor.
“Kami pada awal program ada 700 ekor bebek yang datang pada Sabtu (29/11/2025) lalu,” ungkap Wahyu kepada Joglo Jateng, Sabtu (11/7/2026).
Memasuki pertengahan 2026, kondisi pasar diakui mengalami tekanan yang cukup berat. Wahyu membandingkan situasi saat ini dengan awal tahun lalu.
Di mana peternakan sempat mencicipi masa-masa keemasan dengan harga jual yang tinggi.
“Januari itu malahan masih bagus-bagusnya, harganya juga bagus. Kalau sekarang, telure murah, pakane mahal, mundak-mundak terus,” keluh Wahyu.
Dampak dari ketidakstabilan cuaca pancaroba serta menyusutnya populasi akibat angka kematian wajar berimbas pada penurunan tipis kuantitas telur harian.










