Kudus  

IBI Kudus Luncurkan Program Suami Sigap untuk Tekan Angka Kematian Ibu

SIGAP: Para suami mendampingi istrinya yang sedang dalam masa kehamilan sebagai simbol sigap di Pendopo, Rabu (15/7/2026). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kudus mengajak para suami tak lagi sekadar mengantar istri memeriksakan kehamilan, tetapi ikut aktif mendampingi setiap prosesnya. Melalui inovasi Suami Sigap, Ibu Hamil Sehat, IBI mendorong keterlibatan suami sejak masa kehamilan hingga persalinan sebagai langkah menekan angka kematian ibu sekaligus mencegah stunting sejak dini.

Ketua IBI Cabang Kudus, Darini mengatakan, salah satu penyebab masih terjadinya kematian ibu ialah keterlambatan keluarga, khususnya suami, dalam mengambil keputusan saat terjadi kondisi kegawatdaruratan pada ibu hamil.

”Masih ada beberapa keterlambatan. Salah satunya adalah keterlambatan mengambil keputusan dari keluarga atau dari suami karena suami belum siap,” terangnya.

Melalui inovasi tersebut, para suami diharapkan lebih siap mendampingi istri sejak masa kehamilan hingga persalinan. Program ini mengusung Suami Sigap Ibu Hamil Sehat dengan konsep SIGAP, yakni singkatan dari Siaga, Inisiatif, Gagah, Aktif, dan Peduli.

Pada aspek siaga, suami diharapkan memahami kondisi kesehatan istri, menyiapkan kebutuhan biaya persalinan, serta memiliki akses nomor bidan maupun ambulans apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Sementara pada aspek inisiatif, suami didorong ikut terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemeriksaan kehamilan hingga kelas ibu hamil. ”Suami diharapkan ikut datang dan bertanya tentang kondisi ibu hamil dan bayinya,” harapnya.

Selain itu, suami juga didorong menjadi sosok yang bertanggung jawab, aktif mengikuti perkembangan kesehatan istri, serta peduli terhadap kebutuhan ibu hamil selama masa kehamilan.

Menurutnya, keterlibatan suami masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan pengalamannya membuka praktik mandiri, masih banyak ibu hamil yang datang memeriksakan kandungan tanpa didampingi pasangan.

”Kalau selama saya praktik mandiri, dari 10 ibu hamil yang datang, sekitar tiga sampai empat orang masih datang sendiri,” ungkapnya. (uma/fat/rds)