SEMARANG, Joglo Jateng – Bukit Piramida Rowosari sudah dijadikan langganan untuk berlatih menerbangkan paralayang. Sejak 2005. Kondisi jalan yang sukar dilalui, bahkan dengan sepeda motor, tak lantas membuat komunitas G9 Paralayang enggan berlatih di lokasi yang terletak di Kecamatan Tembalang ini.
Lokasi tersebut dikenal sebagai Bukit Piramida karena terdapat gedung perkantoran yang berbentuk piramida. Perkantoran yang sudah tidak aktif tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang.
Salah satu pelatih dari komunitas G9 Paralayang, Haryanto mengatakan, awalnya ia dengan tim berlatih di Bukit Piramida Rowosari karena tempatnya yang sangat luas. Serta tidak ada pohon-pohon.
“Kemudian saya sama teman saya mencoba untuk terbang dan sangat cocok untuk latihan. Akhirnya saya berkomunikasi dengan PT TANAH MAS untuk menggunakan lahannya dibuat latihan paralayang. Alhamdulillah PT-nya mengijinkan,” ujarnya, Minggu (26/12).
Selain untuk mengembangkan bakat-bakat atlet muda, Bukit Piramida Rowosari juga pernah digunakan untuk kejuaraan nasional. Tepatnya pada tahun 2010.
Menurut Haryanto, Paralayang tidak hanya sebagai olahraga. Namun bisa menjadi daya tarik wisata. Olahraga ini seharusnya bisa dikenal oleh publik sebagai olahraga yang menyenangkan. Untuk itu, ia berharap agar mendapat dukungan Pemerintah Kota untuk mengembangkan Paralayang menjadi akses tempat wisata resmi.
Komunitas G9 Paralayang memiliki kurang lebih 160 anggota yang tersebar di Jawa Tengah. LAtihan rutin dilakukan setiap Rabu, Sabtu, dan Minggu. Mulai pukul 11.00 sampai dengan sore. Tergantung cuaca yang terjadi pada hari itu. Namun, mendekati kejuaraan, mereka akan berlatih setiap hari.
Masyarakat yang ingin mencoba merasakan sensasi terbang tandem bisa datang ke lokasi ini pada hari-hari tersebut. Biaya yang dipatok yaitu Rp 200 ribu.
“Untuk warga Kota Semarang, monggo yang mau mencoba merasakan sensasi terbang tandem, bisa datang ke lokasi Piramida Rowosari,” pungkasnya. (cr3/ern)










