Unggah-ungguh Basa dalam Bahasa Jawa

Oleh: Tumiyati, S.Pd.
Guru SDN Tambakbulusan 2, Kec. Karang Tengah, Kab. Demak

BAHASA Jawa adalah bahasa yang dikenal paling sulit. Penyebabnya tidak lain karena dalam Bahasa Jawa terdapat beberapa tingkatan bahasa yang digunakan untuk hal berbeda. Misalnya Bahasa Jawa untuk diri sendiri, teman, orang yang lebih tua, bahkan untuk orang yang status sosialnya lebih tinggi. Ragam bahasa dalam bahasa jawa juga terbagi menjadi dua yakni: ragam ngoko dan ragam krama. Ragam atau tingkatan bahasa ini merupakan salah satu rangkaian pembelajaran Bahasa Jawa yang disebut dengan unggah-ungguh basa.

Unggah-ungguh basa adalah aturan atau tata cara berbicara dan bertingkah laku untuk menghargai dan menghormati orang lain. Unggah-ungguh juga dapat diartikan sebagai sopan santun atau tata krama. Karena dengan unggah-ungguh ini bahasa atau kata-kata yang kita ungkapkan dalam berbicara sangat sopan dan halus. Sehingga terjadilah komunikasi yang saling menghargai dan menghormati dalam kehidupan di masyarakat.

Namun pada saat ini, kita mengetahui bahwa penggunaan Bahasa Jawa khususnya unggah-ungguh kini semakin luntur. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak-anak dan generasi muda yang kurang bisa dalam menerapkan unggah-ungguh ini untuk berkomunikasi. Misalnya dalam penggunaan unggah-ungguh (bahasa) untuk diri sendiri, untuk teman sebaya atau teman akrab, dan untuk orang yang lebih tua serta untuk orang yang derajat atau sosialnya lebih tinggi.

Ragam unggah-ungguh basa ini dibedakan menjadi dua, yakni ragam ngoko dan ragam krama. Ragam ngoko menggunakan kosakata ngoko. Bahasa yang digunakan dalam percakapan ini pun hanya ngoko saja . Ragam ngoko dibedakan menjadi dua, yakni ngoko alus dan ngoko lugu. Ngoko alus adalah bentuk unggah ungguh basa yang  terdiri dari basa ngoko dan krama inggil. Basa krama yang terdapat di dalam ragam ngoko ini sebenarnya hanya digunakan untuk menghormati orang yang diajak bicara sebagai bentuk penghormatan. Sedangkan ngoko lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa jawa yang semua kosakatanya berbentuk Bahasa ngoko  tanpa ada campuran basa krama atau krama inggil.

Sedangkan, ragam krama merupakan bentuk bahasa yang digunakan sebagai tanda hormat. Dalam Bahasa Jawa ragam krama dibedakan menjadi dua yaitu krama lugu dan krama alus. Krama lugu adalah bahasa krama yang semua kata-kata, awalan, dan akhirannya berbentuk krama. Krama alus adalah bahasa krama yang kata-kata, awalan, dan akhiran berbentuk krama dengan campuran kata krama inggil. Contoh: Ibu nembe siram, Bapak tindak kantor nitih motor, Budhe Tatik ngendika menawi badhe tindak Solo.

Penggunaan masing-masing tingkatan dalam pengucapan dan kesopanan Bahasa Jawa berbeda, tergantung siapa lawan bicaranya. Namun, seringkali kita jumpai penerapan dan penggunaan basa krama yang kurang tepat. Contoh penggunaan unggah-ungguh basa krama untuk diri sendiri, Kula badhe siram. Penggunaan kata (basa) siram dalam hal ini kurang tepat karena siram termasuk basa krama inggil. Sedang penggunaan basa krama inggil itu hanya digunakan untuk orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan. Jadi basa krama yang tepat untuk membahasakan diri sendiri adalah Kula badhe adus.

Mengingat pentingnya pendidikan karakter, budi pekerti,dan kepribadian yang luhur  bagi anak sebagai generasi penerus bangsa yang bermoral dan beretika, maka unggah-ungguh basa ini sangat penting dipelajari dan diajarkan kepada anak sedini mungkin. Dengan menerapkan unggah-ungguh dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terjadi komunikasi yang saling menghargai dan menghormati dalam kehidupan di masyarakat.

Melalui belajar unggah-ungguh basa anak akan dilatih menggunakan Bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari sebagai bentuk karakter pribadi yang sopan dan santun terhadap teman, orang yang lebih tua, atau orang yang sosialnya lebih tinggi. Selain itu, belajar unggah-ungguh Bahasa jawa bisa menjadi penangkal atau pembendung berbagai masalah yang timbul saat ini. Antara lain, belajar menghargai dan menghormati orang lain, belajar rendah diri, belajar mengendalikan ego, belajar menempatkan, dan tidak  sombong. (*)