AGUS Supriyanta, setelah lulus di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Yogyakarta, ia ditugaskan di Irian Jaya pada tahun 1986. Kemudian dua tahun setelahnya, Agus kembali ke Yogyakarta. Untuk diperbantukan di sekolah swasta di SMP PGRI Bantul.
“Sebelumnya di PGRI muridnya hanya 57 siswa, kemudian guru-guru juga sudah pindah di sekolah negeri. Saya tetap disana malah ditugasi sebagai kepala sekolah,” ujarnya, belum lama ini.
Dalam kurun waktu tiga tahun saat Agus menjabat di sana, muridnya bertambah menjadi 400 siswa. Dan di tahun 2002, yang dulunya hanya ada enam kelas, kini menjadi 12 kelas.
“Sekolah swasta dengan murid terbanyak waktu itu di PGRI. Saya buat sekolah dengan life skill, termasuk disitu saya buat band-nya terkenal dan mengisi dimana-mana,” ucapnya.
Dari situlah menurut Agus, sekolahnya mulai mendapat nama dan banyak siswa yang mendaftar. Kemudian ia juga membangun sekolahnya menjadi lebih baik.
Di tahun 2005, Agus mendapatkan beasiswa S2 Bupati dengan jatah lulus kuliah lima semester. Namun, ia dapat lulus di semester ke empat.
Agus pun mendaftar tes kepala sekolah. Dari 80 peserta, terpilih 17 peserta yang di diklat, ia pun menjadi lulusan terbaik saat itu.
“Saya diminta di sekolah negeri. Waktu itu belum pernah ada kepala sekolah swasta dipindah ke negeri,” ujar Agus kelahiran Bantul, November 1962 silam.
Dari PGRI, ia dipindahkan ke SMPN 3 Jetis. Saat itu di tahun 2011 peringkat ujian nasional di sekolahnya mendapatkan peringkat 52. Setelah Agus disana, dalam tiga tahun terakhir naik menjadi rangking 37.
Di tahun 2014, Agus dipindahkan ke SMPN 1 Sedayu. Dimana sekolah tersebut belum pernah menduduki peringkat 10 besar. Dan setelah Agus dipindahkan kesana, ia mendapat hasil yang memuaskan. Yakni masuk peringkat 10 besar. Ia pun terpilih menjadi ketua Musyawarah Kepala-Kepala Sekolah (MKKS) di tahun 2015 se-Kabupaten Bantul dan di 2017 menjadi ketua MKKS se-DIY.
“Dari ketua MKKS, di tahun 2018 saya dipindahkan ke sekolah di kota ini, SMPN 2 Bantul yang saat saya masuk prestasinya mulai agak menurun. Karena saat uji coba belum menunjukkan ranking satu, kalah dengan SMP Sanden. Alhamdulillah bangkit lagi terus dipertahankan sampai saat ini bahkan di 2019 SMP ini masuk 10 besar nasional,” ujarnya.
Hal yang berkesan menurut Agus saat menuntut ilmu adalah dirinya juga bekerja saat kuliah. Dadi sopir angkot hingga bengkel las, dengan gaji lima belas ribu rupiah per harinya.
Agus berpesan kepada para pelajar untuk belajar yang tekun. Sebab menjadi orang yang berprestasi nantinya akan dibutuhkan banyak orang.
“Belajar yang tekun, berprestasi. Nantinya pastinya banyak yang membutuhkan,” jelasnya. (ers/bid)










