Akhir Manis Kisah Elena Rybakina

SEJARAH: Petenis Kazakhstan Elena Rybakina berpose bersama trofi juara tunggal putri Wimbledon setelah mengalahkan petenis Tunisia Ons Jabeur dalam final Wimbledon di All England Lawn Tennis and Croquet Club, London, akhir pekan lalu. (www.facebook.com/wimbledon/JOGLO JATENG)

LONDON, Joglo Jateng – Elena Rybakina tak menyangka bisa menjuarai Wimbledon tahun ini. Dia bahkan tidak percaya bisa melenggang ke pekan kedua. Dia memang sudah bekerja keras guna menggapai impiannya. Namun tetap saja ia tak menyukai persiapannya untuk turnamen Grand Slam lapangan rumput di London itu.

Sebelum mendatangi All England Club, petenis 23 tahun itu mesti berjuang melawan cedera. Sampai-sampai tak memiliki gambaran apa-apa mengenai langkahnya selama Wimbledon 2022.

Namun dari laga ke laga, termasuk saat menumbangkan dua mantan juara Grand Slam, Simona Halep dan Bianca Andreescu. Petenis Kazakhstan asal Rusia itu membuktikan dirinya mampu.

Sabtu malam (9/7) Rybakina mengguncang dunia. Setelah melakukan pembalikan luar biasa untuk menang 3-6, 6-2, 6-2 atas petenis Tunisia yang difavoritkan juara, Ons Jabeur, di lapangan utama Wimbledon di Centre Court. Untuk pertama kalinya dia menjuarai turnamen Grand Slam yang juga yang pertama untuk Kazakshtan.

Setelah poin terakhir dia menangkan ketika backhand Jabeur melayang di luar garis. Rybakina yang pendiam itu seperti tak mempercayai yang telah menimpa dirinya. Dia baru tersenyum setelah berjabat tangan dengan Jabeur.

“Saya sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Menjadi juara itu luar biasa hebat, saya tak punya kata-kata untuk mengungkapkan betapa bahagianya saya,” kata Rybakina di lapangan.

Lahir di Moskow tetapi empat tahun terakhir membela Kazakhstan, Rybakina dinobatkan sebagai juara Wimbledon ketika semua petenis Rusia dilarang tampil dalam turnamen ini. Panitia melarang petenis Rusia dan Belarus akibat invasi Rusia ke Ukraina. Termasuk para bintang seperti Daniil Medvedev dan juara Grand Slam dua kali Victoria Azarenka.

Namun, masih ada pemain Rusia yang bermain di lapangan rumput yang terkenal itu. Setelah Rybakina memilih bermain di bawah bendera Kazakhstan sejak 2018 ketika dia terlunta-lunta pada peringkat 175 dunia.

Empat tahun kemudian, Rybakina mempersembahkan gelar juara Grand Slam pertama untuk Kazakhstan. Sekaligus mengeduk hadiah senilai 2,4 juta dolar AS (Rp 35,59 miliar).

Sepanjang turnamen dia senantiasa dilabeli kata petenis kelahiran Rusia yang sepertinya untuk menegaskan ironi larangan kepada petenis Rusia. Tetapi petenis bertinggi 1,84 meter itu menegaskan bahwa dia sepenuhnya untuk Kazakhstan.

“Saya bermain untuk Kazakhstan sejak lama. Saya senang sekali bisa mewakili Kazakhstan. Mereka (Kazakshtan) mempercayai saya,” kata petenis berperingkat 23 dunia itu.

Rybakina enggan terus-terusan ditanya berapa lama menghabiskan waktu di Moskow yang sampai kini menjadi tempat tinggal utamanya. Rybakina berkilah bahwa dia lebih sering berlatih di Slovakia dan Dubai.

Rybakina adalah salah satu dari segelintir petenis yang menjuarai Grand Slam dalam final pertamanya dalam turnamen utama tenis. Perjalanan Rybakina sampai final Wimbledon pun melelahkan. Karena hampir dilalui dengan pertarungan-pertarungan sengit. Kecuali saat menundukkan Simona Halep dalam semifinal.

Senjata andalannya adalah servis kencang yang membuat dia bisa menyusul ketertinggalan satu set dari Jabeur. Sebelum merampas dua set berikutnya dengan menghujani petenis Tunisia itu dengan rangkaian servis geledek.

Dia juga memiliki rahasia lain berupa semangat berjuang yang tinggi yang membuatnya terlihat tenang kala ditekan lawan sekalipun gugup saat set pertama melawan Jabeur.

Kini, Rybakina menjadi petenis putri pertama non 20 besar WTA yang menjuarai Wimbledon sejak Venus Williams pada 2007. Dia juga petenis putri pertama yang menang di All England Club setelah tertinggal dalam set pertama sejak Amelie Mauresmo pada 2006. Dia juga menjadi wanita termuda yang menjuarai Wimbledon sejak Petra Kvitova pada 2011.

Dia berterima kasih kepada Kazakhstan yang telah menampungnya ketika di negeri asalnya di Rusia dianggap sebelah mata. “Kazakhstan mendatangi saya dan mereka memberikan segalanya kepada saya,” ujar Rybakina seperti dikutip AFP. (ara/fat)