Bangun Istana, Ciptakan Gotong Royong dan Toleransi

KERJA KERAS: Mahasiswa baru Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membangun istana yang menggambarkan budaya tradisi yaitu rumah joglo dalam masa pengenalan mahasiswa baru, belum lama ini. (ERNA SARI SUSANTI/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Masa Pengenalan Mahasiswa Baru di masa endemi ini sangat berbeda. Sebanyak 512 mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) membangun sebuah istana yang menggambarkan budaya tradisi yaitu rumah joglo, untuk menciptakan gotong royong dan saling toleransi antar mahasiswa baru.

Dekan 3 Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta, Lambert Daniel Morin mengatakan, bahwa mahasiswa seni rupa ISI Yogyakarta menyelenggarakan pengenalan mahasiwa baru. Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang bertemakan Penguatan Peran Mahasiswa yang adaptif, eksploratif, dan kolaboratif dalam recovery kehidupan.

“Hari ini adalah kesempatan terbaik untuk kolaborasi, untuk membangun kecintaan terhadap negeri. Fakultas seni rupa membuat bangunan, sebuah istana yang mencerminkan lokal jawa yaitu sebuah bangunan joglo yang diperkenalkan oleh mahasiswa baru dari berbagai pulau di Indonesia,” ujarnya, Minggu (28/8).

Dengan dibangunnya istana tersebut, nantinya akan terbangun kolaborasi nasional maupun internasional. Kolaborasi tersebut akan terbangun dalam kegiatan-kegiatan kedepannya.

“Kegiatan ini bertujuan bagaimana rasa kecintaan terhadap seni, membangun potensi bangsa dan kehidupan bermasyarakat melalui seni rupa. Kami Fakultas Seni Rupa sangat bangga dengan Yogyakarta, Indonesia, dan nusantara,” ucapnya.

Istana berbentuk bangunan joglo tersebut memiliki filosofi, dimana bangunan joglo merupakan salah satu rumah tradisional di Yogyakarta. Pihaknya mengenalkan dengan cara sederhana, dimana bangunan tersebut tahan gempa, kemudian mempunyai efektifitas material yang bisa diterapkan untuk mahasiswa terutama seni rupa.

“Karena di seni rupa ada desain interior, kriya. Mereka mempunyai andil dalam membuat bangunan,” paparnya.

Sementara di seni murni dan tata kelola seni mengelola bagaimana manajemen membuat rumah sederhana. Hal tersebut dapat diterapkan di bidang seni.

“Bergotong royong, saling berbagi dan saling toleransi. Disini akan digugah untuk mahasiswa baru yang sebelumnya belum berkenalan, sebelumnya belum saling berinteraksi,” tuturnya.

Interaksi disini diartikan mereka akan menjadikan satu kegotongroyongan menjadi satu interaksi bersama dengan saling memberikan toleransi. Menurutnya tidak ada yang cepat dan tidak ada yang lambat, melainkan mereka bersama dalam satu waktu. (ers/bid)