PATI, Joglo Jateng – Warga Desa Sukolilo, Kabupaten Pati memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan mengadakan tradisi meron. Tradisi rutinan tersebut digelar dengan mengarak 13 gunungan menuju Masjid Baitul Yaqin.
Saat membacakan sejarah tradisi meron, Ali Zuhdi menyampaikan bahwa meron telah digelar secara turun menurun. Sehingga terus dilestarikan oleh masyarakat setempat pada saat peringatan maulid Nabi.
Dia menuturkan, Meron dalam bahasa Kawi adalah gunung. Menurutnya, Meron merupakan wujud perlengkapan upacara yang berbentukan gunungan. Sedangkan meron itu sendiri terbagi sejumlah bagian di dalamnya.
“Meron terdiri dari mustaka, gunungan dan arakan. Adapun mustaka dari bunga dan jagoan, gunungan dari mancungan, once dan ampyar curur. Aementara ancak salah satunya dari daun wandiro,” ucapnya saat membacakan sejarah meron, Minggu (9/10).
Sementara itu, Ketua Panitia Meron 2022, Muhammad Shobah Rahman mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan. Sehingga pagelaran tradisi meron ini bisa berjalan sukses dan meriah.
“Rentetan acara meron di tahun ini sudah mulai sejak Jumat (7/10) dan hari ini (Minggu (9/10), Red) adalah puncaknya. Kegiatan meron ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 46 juta. Namun alhamdulillah dapat terlaksana dengan baik,” ucapnya, Minggu (9/10).
Dia menjelaskan, meron kali ini menonjolkan sisi kebersihan saat berlangsungnya acara. Oleh karena itu, pelaksanaannya pada tahun ini mempunyai slogan ‘Meron Bebas dari Sampah’.
“Ide meron bebas dari sampah muncul dari pengalaman tahun-tahun kemarin. Yang mana, pelaksanaan bebas sampah tahun ini dipelopori oleh Sedulur Sikep,” katanya.
Lebih lanjutnya, tradisi meron adalah warisan budaya leluhur. Sebab itulah, warga Sukolilo berharap kepada pemerintah supaya bisa memberikan sumbangsih moril saat tradisi meron digelar.
Sementara itu, PJ Bupati Henggar Budi Anggoro mengatakan, Desa Sukolilo terpilih menjadi desa kebudayaan dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan dan Teknologi. Sehingga, tradisi meron ini patut untuk terus dilestarikan.
“Tradisi meron diakui sebagai budaya tak benda. Ini salah satu budaya di Pati yang diakui tingkat nasional. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan, dari serangkaian acara yang berjalan adalah bagian kita mewarisi sejarah. Jangan sampai kita kehilangan jejak,” ungkapnya.
Henggar juga mengajakan semua pihak ikut adil untuk memperkenalkan budaya dari Pati ke khalayakan umum. Dengan harapan, budaya lokal daerah bisa semakin populer.
“Tradisi meron memperoleh penghargaan tingkat nasional sebagai nominasi tiga besar kategori festival tradisional oleh Anugerah Pesona Indonesia. Atas prestasi tersebut, budaya ini patut mendapat dukungan bersama, untuk menanam rasa cinta terhadap budaya daerah. Mari Kita sama-sama membrending Pati,” pungkasnya. (lut/fat)










