UMKM  

Sulap Koran Bekas Jadi Kerajinan

HASIL : Erna menunjukkan produk tasnya yang terbuat dari koran bekas, belum lama ini. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

BERBAGAI peluang akan selalu ada apabila kita pandai memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar. Itulah yang dilakukan oleh Piliani Ernawati, pemilik produk Craftonesia.id. Berawal dari melihat banyaknya koran bekas yang menumpuk di rumahnya, ia pun mempunyai ide untuk menyulapnya menjadi kerajinan yang cantik serta mempunyai nilai jual.

Perempuan yang telah merintis bisnisnya sejak Juni 2018 ini menjelaskan, dia mencoba mencari ide dari internet untuk membuat kerajinan kertas koran yang standar. Kemudian ia menemukan kerajinan anyaman yang terbuat dari rotan.

“Dari situ akhirnya muncul ide gimana kalau koran ini saya warnain jadi kayak rotan kemudian saya anyam. Jadi seperti kerajinan rotan tapi dari koran,” jelasnya.

Karena berbahan dasar dari kertas, ia pun mencari cara agar kerajinan tersebut bisa awet dan tahan air. Langkah pertama yang dilakukannya adalah menambahkan lapisan khusus (coating) pada lintingan korannya terlebih dahulu sampai kering. Setelah kering, lintingan mulai diwarnai dengan cat cair. Selanjutnya kembali diberi coating dan dimasukan kedalam plastik agar tidak mengeras.

“Setelah dimasukan plastik itu lintingannya sudah siap digunakan kapan aja. Nah nanti kalau lintingannya sudah dianyam, nanti kita coating lagi, biar tambah awet. Untuk pengecatan 1000 linting empat jam atau tergantung cuaca,” tambahnya.

Karena penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari, proses coating ditunggu hingga lapisannya kering. Kreasi ini menghasilkan produk dengan beragam jenis. Antara lain tatakan gelas dan piring, tempat pensil, tempat tisu, keranjang, tas jinjing, tas slempang, tas cowok, dan handbag. Kemudian untuk home decor ada cermin, jam dinding untuk dekorasi, dan masih banyak lagi.

Erna menjelaskan keistimewaan produk ini adalah ramah lingkungan dan unik, karena terbuat dari kertas koran. Namun meski terbuat dari kertas, produk ini tahan air dan tidak akan jamuran. Selain itu, apabila orang memesan modelnya, maka tidak akan sama persis dengan model lainnya. Hal ini lah yang membuatnya spesial.

“Pengerjaannya paling sebentar itu tatakan gelas, itu sehari. Kalau tas bisa seminggu karena ada proses penjahitan tambahan kulit. Lalu untuk harga mulai dari Rp8 ribu untuk tatakan gelas sampai Rp300 ribu untuk kerajinan tas,” ungkapnya. (luk)