Presentasi Tingkatkan Unggah-Ungguh Siswa

Oleh: Dahniyati Lutfiyah, S.Pd
Guru Bahasa Jawa MTs Nahdlatusy Syubban Sayung

BAHASA Jawa adalah bahasa ibu, dimana setiap hari digunakan sebagai bahasa sehari-hari khususnya masyarakat Jawa Tengah. Meskipun digunakan sebagai bahasa sehari-hari, namun banyak sekali yang belum mengetahui aturan penggunaan Bahasa Jawa. Maka dari itulah pembelajaran Bahasa Jawa sangat perlu untuk diajarkan di sekolah agar tidak terjadi salah penggunaan dan mengetahui cara berunggah-ungguh.

Menurut Frans Magnis Suseno dalam Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, unggah-ungguh identik dengan prinsip hormat. Yaitu sikap dimana orang Jawa dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat kepada orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya.

Dengan mengenal unggah-ungguh, siswa dapat memahami tingkatan sosial dengan tujuan menghormati diantara sesama dalam pergaulannya. Untuk keperluan pembelajaran unggah-ungguh basa dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu ngoko, krama, dan krama inggil. Ngoko digunakan untuk percakapan dengan teman sebaya atau dengan orang yang lebih muda. Sedang krama dan karma inggil digunakan untuk percakapan dengan teman sebaya yang saling menghormati, atau kepada orang yang lebih tua.

Penggunaan Bahasa Jawa yang masih kurang banyak diketahui oleh para remaja bukanlah kesalahan dari pribadinya, namun disebabkan dari lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Dengan berbagai usaha, guru mengharapkan agar para siswa dapat menggunakan unggah-ungguh dengan benar. Karena dengan bahasa yang baik dan santun, siswa dapat dikatakan sebagai orang yang berkepribadian dan berkarakter baik.

Dalam kenyataanya, pada proses belajar mengajar, terdapat beberapa siswa yang tidak berani berbicara ataupun bertanya ketika diberikan kesempatan bertanya kepada guru. Alasannya adalah khawatir salah dalam menggunakan Bahasa Jawa yang baik. Bersumber dari masalah yang dialami siswa tersebut, sebagai guru harus bisa mengambil langkah yang tepat ketika memilih dan menggunakan metode mengajar. Guru bisa menggunakan metode presentasi.

Menurut Erwin Sutomo dalam Presentasi Aktif of Power Point (2007:1), presentasi merupakan kegiatan aktif dimana seorang pembicara menyampaikan dan mengkomunikasikan ide suatu informasi kepada sekelompok audiens. Dalam kegiatan tersebut, dibutuhkan bahasa yang sistematis terarah dan bertujuan.

Dengan metode presentasi yang menggunakan Bahasa Jawa, para siswa merasa senang, walaupun terdapat kesalahan-kesalahan yang sering muncul. Suasana kelas menjadi agak ramai, karena ada bahasa yang baru didengar. Namun hal itu menjadikan siswa justru lebih bersemangat belajar menggunakan bahasa krama dan tidak ragu lagi dalam bertanya jika ada yang belum diketahui. Siswa masih menggunakan bahasa dengan sebisanya.

Sedikit demi sedikit, anak-anak tersebut akan terbiasa menggunakan bahasa krama yang benar. Guru bisa memberikan motivasi dan semangat berbahasa jawa kepada siswa, terutama siswa yang belum berani berbicara dan siswa yang kurang memiliki kesopanan dalam berbicara.

Melalui metode presentasi dengan menggunakan unggah-ungguh Basa Jawa dalam pembelajaran ini, diharapkan siswa terbiasa dengan Bahasa Jawa yang baik dan benar dalam bentuk percakapan. Sehingga akan terlihat kesopanan dalam berbicara dan bersikap. Hendaknya memang pengenalan dan penggunaan unggah-ungguh anak perlu ditingkatkan. Bukan hanya melalui pembelajaran, namun dimulai dalam lingkungan keluarga,

Dengan begitu, para siswa tidak merasa bahwa berbahasa jawa dengan unggah-ungguh ini tidak hanya sekedar tuntutan dalam pembelajaran disekolah. Tetapi dalam kehidupan nyata, tetap menggunakan unggah-ungguh dengan benar dan terhindar dari kesalahan. Dengan kebiasaan berunggah-ungguh, akan terbentuk pribadi yang baik dan berkarakter, serta menjauhkan dari konflik sosial dan sikap emosional. (*)