Oleh: Rukayin
Guru SD 2 Prambatan Lor, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus
SUASANA belajar yang nyaman dan menyenangkan memungkinkan siswa untuk memusatkan pikiran dan perhatian kepada apa yang sedang dipelajari. Dalam hal ini, guru menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan pembelajaran di ruang kelas. Strategi dan metode pembelajaran yang digunakan sangat menentukan kondusif atau tidaknya suasana belajar. Fakta yang terjadi, siswa SD 2 Prambatan Lor saat menerima pelajaran IPS Mengidentifikasi Letak-Letak geografis Daerah yang Terdapat di Indonesia, mereka bersikap pasif. Sehingga suasana belajar tidak kondusif. Hal tersebut disebabkan karena strategi pembelajran belum tepat, dan guru kurang mengembangkan metode pembelajaran.
Guru mengambil solusi dengan model pembelajaran make and match untuk menghidupkan suasana belajar dan memperbaiki tingkat ketuntasan. Menurut Joyce & Weil dalam Huda (2013:73), model pembelajaran sebagai rencana atau pola dapat digunakan untuk membentuk kurikulum. Kemudian mendesaian materi-materi instruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan. Artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.
Penerapan model ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya. Siswa yang dapat mencocokan kartunya diberi poin. Adapun langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran make a match menurut Aqib Zainal (2013:23) adalah sebagai berikut. Pertama, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Satu sisi berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban.
Kedua, setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Ketiga, siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal atau kartu jawaban). Keempat, siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Kelima, setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. Keenam, kesimpulan.
Persiapan guru dalam menerapkan model make a match yaitu siswa dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama membawa kartu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua pembawa kartu-kartu berisi jawaban, serta kelompok ketiga penilai. Posisi kelompok-kelompok berbentuk huruf U pertama berhadapan dengan kelompok kedua. Guru mengecek posisi siswa sesuai desain, peluit dibunyikan agar kelompok pertama dan kedua bergerak mencari pasangannya sesuai pertanyaan atau jawaban yang terdapat dikartunya.
Guru memberikan waktu untuk siswa menentukan letak geografis suatu daerah sesuai pertanyaan. Pasangan yang menunjukan pertanyaan dan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok penilai membaca apakah pasangan pertanyaan jawaban itu cocok, dan guru mengecek kelompok penilai. Guru mengubah posisi kelompok selama tiga kali sehingga siswa dapat menempati semua posisi.
Dalam proses pembelajaran, suasana menjadi serasa bermain namun penyampaian materi tercapai secara tuntas. Metode pembelajaran make a match ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Setiap siswa harus siap menerima lembar soal maupun lembar jawaban dan berusaha menemukan pasangannya. Dengan metode pembelajaran ini diharapkan siswa akan menikmati permainan. Selain itu membuat siswa lebih memahami materi yang dipelajari, dan akhirnya meningkatkan perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran Geografi
Model make a match terbukti bisa menghidupkan suasana belajar. Siswa terbukti sangat antusias dalam menerima materi dan arahan guru. Kemudian mampu menciptakan suasana aktif menyenangkan. Kerja sama antar siswa terwujud dengan dinamis. Hasil evaluasi belajar mencapai ketuntasan yang maksimal. (*)








