SEMARANG, Joglo Jateng – Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menggelar ujian praktik kepanata-acaraan, tata rias, dan seni tari, kemarin. Kegiatan ini merupakan salah satu ajang untuk memberikan bekal kepada para mahasisw PBSD sebelum berada di masyarakat. Berlansung di kampus IV UPGRIS, Jalan Gajah Raya Semarang.
Dr Asropah MPd selaku Dekan FPBS serta Alfiah MPd, Ketua Program Studi PBSD UPGRIS menerangkan, ketika mahasiswa menjadi pranatacara, rupanya tidak sekedar membawakan acara dalam bahasa Jawa. Mereka harus menguasai sejumlah keahlian khusus. Kelayakan mereka pun ditentukan lewat ujian yang memuat tes tulis dan praktik.
“Kami sangat bangga dengan adanya ujian praktik seperti ini menjadi salah cara melestarikan sebuah tradisi Indonesia khususnya Jawa. Siapa lagi jika bukan para anak muda yang akan melanjutkan atau melestarikan budaya nusantara. Maka dengan kegiatan ini PBSD UPGRIS menjadi teladan bagi masyarakat agar terus didukung kegiatan tradisi seperti ini,” ungkap dekan FPBS UPGRIS.
Alfiah menambahkan, tidaklah mudah untuk menjadi pranatacara yang profesional. Modal fasih dialog berbahasa Jawa saja tidak cukup. Seseorang dituntut kepiawaian berdandan dan memakai baju adat Jawa.
“Para pembawa acara ritual Jawa itu dituntut untuk menguasai beberapa keahlian pranatacara. Mulai renggeping wicara atau menghafal bahasa Jawa hingga mengucapkan lafal yang benar,” tutur Alfi.
Hadir pula dosen pengampu mata kuliah kepenata-acaraan Drs Suyitno MPd dan Nuning Zaidah SPd MA dan dosen matakuliah seni tari Dr Riris Setyo Sundari MPd. Harapannya, dengan dilakukan ujian ini, para mahasiswa mampu memiliki keahlian yang cukup agar mampu menjadi generasi muda yang profesional seni tradisi Jawa. (hms/mg4)










