Oleh: Mulyono, S.S.
Guru Bahasa Jawa SMP N 2 Sukodono, Kabupaten Sragen
KEBUDAYAAN Jawa merupakan manifestasi dari cipta, rasa, dan karsa masyarakat Jawa. Mengandung nilai-nilai luhur yang dilaksanakan secara rutin dan berkembang dari generasi ke generasi secara turun temurun. Karena dampak negatif dari derasnya arus globalisasi dan kemajuan iptek, dalam kehidupan terdapat problematika asimilasi budaya. Kemudian terjadi erosi nilai-nilai luhur budaya, sehingga generasi muda bergaya hidup yang tidak sesuai dengan kepribadian orang Jawa.
Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Jawa yang harus dicapai siswa kelas VII SMP N 2 Sukodono adalah memahami wacana deskripsi tentang peristiwa budaya. Namun dalam proses pembelajarannya, guru mengajarkan siswa hanya untuk berpikir abstrak, kurang inovatif dan kreatif, serta tidak menerapkan model pembelajaran yang tepat. Keterlibatan siswa sangat minim. Akibatnya, siswa bersikap apatis terhadap materi pelajaran yang disampaikan guru. Siswa lebih suka dengan budaya mancanegara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang kita.
Untuk menyikapi fenomena di atas, penulis sebagai guru bahasa Jawa dalam pembelajarannya menerapkan MP3 berbasis multimedia. MP3 merupakan akronim dari Metode pembelajaran picture and picture. Sedangkan Multimedia dengan menggunakan media audio dan visual (video pembelajaran). Pembinaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dilakukan untuk merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam mencapai tujuan belajar.
MP3 adalah model pembelajaran dengan menggunakan media gambar. Gambar yang disajikan disusun secara logis atau berurutan model pembelajaran picture and picture memiliki karakteristik inovatif, kreatif, dan menyenangkan (Wilantara, dkk: 2016). Dengan pembelajaran ini, guru dapat menguji kesiapan siswa, melatih memahami materi dengan cepat melalui gambar dan meningkatkan aktivitas belajar siswa. Sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar.
Menurut Zaenal (dalam Fansury, 2017:76), MP3 adalah model pembelajaran yang ditekankan pada gambar yang diurutkan menjadi urutan yang logis. Kemudian mengembangkan interaksi antar siswa yang saling asah, silih asih, dan silih asuh. Dalam pembelajaran mengombinasikan antara MP3 dan media audio visual, pembelajaran terfokus pada kegiatan mengamati, menggambar, mendemonstrasikan. Kemudian membaca, mendengar, dan mendemonstrasikan media belajar. Sehingga kemampuan siswa dalam berkomunikasi akan berkembang. Karena pembelajarannya menuntut siswa untuk berinteraksi dalam kelompok, berimajinasi lewat media gambar/video pembelajaran yang mengandung pesan pada alat kesadaran manusia dilakukan melalui indra penglihatan dan pendengaran.
Adapun sintaks pembelajaran pemahaman peristiwa budaya dengan MP3 berbasis multimedia adalah sebagai berikut. Pertama, pendahuluan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, memberi pengantar kegiatan dengan motivasi dan teknik yang menarik minat siswa untuk belajar. Kedua, pelaksanaan. Siswa mengamati video pembelajaran tentang peristiwa budaya dan memperhatikan gambar-gambar yang ditunjukkan oleh guru. Kemudian mereka mengurutkannya menjadi urutan yang tepat berdasarkan video pembelajaran yang telah diamati.
Siswa dibentuk kelompok diskusi, bertanya jawab mengenai gambar tersebut dan mengerjakan lembar kerja yang telah disiapkan. Dalam pengurutan gambar dan proses diskusi, guru harus memberikan penekanan alasan/dasar pemikiran yang logis dan sistematis serta meminta siswa lain untuk mengulanginya. Dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, yang lain menanggapinya;
Ketiga, evaluasi dan tindak lanjut. Guru dan siswa merefleksi dan memberi tanggapan tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan untuk membuat rangkuman serta kesimpulan sebagai penguatan. Guru berperan sebagai fasilitator serta mengadakan penilaian baik secara individu maupun kelompok.
Implementasi MP3 berbasis multimedia dapat mempermudah pemahaman peristiwa budaya. Siswa mampu memilah dan memilih semua budaya yang dihadapi. Dengan begitu, mereka dapat membangun jati diri dan mengangkat serta menanamkan nilai-nilai luhur budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. (*)








