Enjoy Jarles Warisan Budaya Bangsa dengan Membatik

Oleh: Jaziroh, S.Pd.SD
Guru SDN Ambokulon, Kec. Comal Kab. Pemalang

PADA 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi. Untuk memperingati penghargaan tersEbut, pemerintah juga menentukan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Karena begitu berharganya batik bagi bangsa Indonesia, bahkan dalam materi pembelajaranpun ada materi tentang batik. Salah satunya dalam pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) kelas V Tema 9 Sub Tema 4 Pembelajaran 6, Kompetensi Dasar 4.4 Membuat Karya Seni Rupa.

Belajar batik kurang optimal jika tidak disertai dengan parktik langsung. Menurut Sudjana (2005:157-158), praktik adalah metode dalam pembelajaran dengan tujuan melatih serta meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di kehidupan nyata atau lapangan, pekerjaan, atau tugas yang sebenarnya. Pendidik harus mampu berinovasi agar proses dan hasil belajar siswa optimal. Untuk itu harus dilakukan praktik langsung.

Batik merupakan salah satu karya seni rupa daerah. Berdasarkan teknik pembuatannya, batik dibedakan dalam teknik tulis, kombinasi, cap, print, celup ikat/ jumputan, dan ecoprint. Batik tulis dibuat dengan menggunakan lilin panas yang diletakkan ke dalam sebuah alat bernama canting. Sedangkan batik cap dibuat menggunakan stempel bermotif yang terbuat dari tembaga dan dicap ke atas kain mori. Teknik pembuatan batik selanjutnya adalah kombinasi, yaitu perpaduan antara batik tulis dan cap.

Batik print adalah teknik membuat paling modern. Untuk membuat batik ini, memerlukan komputer, software, serta kreativitas dalam membuat motif yang menarik. Selain itu, batik ini dibuat dengan mesin print kain. Teknik batik selanjutnya adalah batik celup ikat atau yang dikenal juga dengan istilah jumputan. Teknik ecoprint adalah teknik batik yang paling mudah dibuat.

Pada pembelajaran batik kelas V SDN Ambokulon, kami mengambil dua teknik batik yang paling sederhana dan praktis dipraktikkan. Yaitu teknik jumptuan dan ecoprint. Praktik pertama, yaitu membuat taplak batik teknik jumputan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari lima sampai enam siswa. Siswa diarahkan untuk menjahit tepi taplak/di neci, kemudian ikat kuat beberapa bagian kain menggunakan karet atau tali. Setelah itu, celupkan ke dalam cairan pewarna.

Cairan pewarna ada yang dengan teknik rebus, ada yang tidak direbus, tergantung zak warnanya. Setelah beberapa menit atau sampai proses penecelupan dirasa cukup, buka ikatan pada kain dan jemur. Untuk menghasilkan paduan warna lagi, maka ikat lagi dibagian yang lain, kemudian celup lagi pada zat pewarna, jemur, setelah kering, buka ikatan. Maka akan terlihat hasilnya.

Praktik yang kedua, yaitu membuat totebag dengan batik teknik ecoprint. Kali ini, siswa membuat individu tidak kelompok. Siapkan totebag polos berbahan katun, kemudian rendam dalam air tawas, semakin lama merendam semakin bagus. Selanjutnya, jemur sebentar totebag jangan sampai kering.

Lapisi plastik bagian dalam suapaya tidak tercampur warna. Tata daun sesuai keinginan, lapisi palstik lagi di atas daun tersebut. Pukul setiap bagian daun dengan alat pemukul. Gulung dengan rapi, kukus setengah jam, rendam lagi dalam cairan tawas. Langkah terakhir jemur dan setrika. Jadilah totebag kekinian yang cocok dibawa hangeout ke manapun.

Selama praktik pembuatan batik dengan dua teknik di atas, baik secara kelompok maupun individu, siswa semuanya terlihat aktif dan senang. Tampak raut wajah puas dan bahagia. Saat diberi latihan soalpun, mereka dapat menjawab dengan hasil yang optimal.

Pendidik berharap supaya siswa dapat menerapkan hasil belajarnya sepanjang masa. Manakala sudah dewasa, mereka akan terampil bekerja dan bahkan dari membatik dapat menghasilkan pundi pundi rupiah jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. (*)