SEMARANG – Sebanyak tiga puluh perempuan berusia produktif yang merupakan korban penyalahgunaan NAPZA dan ODHA menerima pembinaan ketrampilan tataboga. Acara dilaksanakan di aula Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) AT-TAUHID Semarang di Jalan Gayamsari Selatan, mulai Senin-Jumat (2-6/11).
Acara tersebut terlaksana berkat kerjasama anatara Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang dengan IPWL AT-TAUHID Semarang. Pihaknya menunjuk tim LPK LALITA Kota Semarang sebagai pemandu pelatihan.
Instruktur LPK LALITA Kota Semarang, Indriyani mengatakan, selama lima hari ini pihaknya mengajari peserta membuat aneka makanan (jajanan), kue dan masakan, mulai teori sekaligus praktek.
“Hari pertama ini kita ajari membuat onde-onde isi kacang ijo, hari kedua onde-onde ketawa dan timlo solo, hari ketiga membuat nogosari Bandung, bothok telur asin, hari keempat makroni supel dan kue manja. Adapun hari terakhir membuat soto Sukaraja,” ucapnya disela pelatihan ketrampilan tataboga, Selasa (3/11).
Ia mengatakan, saat pandemi seperti ini mencari pekerjaan tidak mudah. Sehingga pelatihan ketrampilan tataboga ini juga bisa menjadi solusi untuk mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi para korban penyalahgunaan dan ODHA.
“Saya berharap, para peserta ini setelah pelatihan ini, mereka bisa praktek membuat kue atau makanan sendiri, bisa untuk pengajian, arisan, bisa menerima pesanan atau usaha mandiri sehingga ada manfaat dan ada nilai tambah dari sisi ekonomi,” katanya.
Direktur IPWL Yayasan Rehabilitasi AT-TAUHID Semarang, Singgih Yonkki Nugroho mengatakan, dengan pembekalan tersebut para penyalahguna NAPZA dan ODHA memiliki ketrampilan yang sangat dibutuhkan. “Dari pelatihan ini, kami berharap para peserta bisa mengambil manfaat dan mempraktekkan ilmu yang diperoleh di lingkungannya masing-masing atau bisa untuk berwirausaha,” pintanya
Sementara itu, Kepala Dinsos Kota Semarang, Muthohar menambahkan, pihaknya tidak sekedar melakukan pembinaan dan memberikan pelatihan saja. Namun juga melakukan pendataan dan pengelolaan data penyandang masalah kesejahteraan sosial dan potensi serta sumber kesejahteraan sosial.
“Kami berharap pelatihan ketrampilan ini outcame-nya jelas, setiap tahun pelatihan harus ada hasil yang bisa disampaikan,” pungkasnya. (git/gih)










