SEMARANG – Aksi teror yang terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Kota Semarang. Pihaknya mendesak pemerintah memberi perlindungan terhadap umat beragama di Indonesia.
Koordinator Pelita, Setyawan Budi mengaku berang atas tindak terorisme tersebut. Ia mengecam aksi terorisme yang menyebabkan tewasnya satu keluarga, dan aksi pembakaran rumah warga serta tempat ibadah tersebut.
“Kami menyampaikan duka cita mendalam dan empati setulus-tulusnya kepada para korban dan keluarga yang kehilangan, serta seluruh warga desa yang terdampak baik secara material, psikologis, maupun spiritual,” ucapnya Selasa (1/12).
Setyawan meminta negara hadir dan menjamin rasa aman bagi seluruh umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tanpa terkecuali. Ia juga mendesak aparat kepolisian untuk bertindak tegas menangkap dan memproses para pelaku berdasarkan hukum yang berlaku.
“Kami mengajak semua warga negara Indonesia untuk terus membangun persaudaraan sejati dan menggalang solidaritas melintasi sekat dan perbedaan. Agar semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tidak kalah pada kebencian dan kekerasan atas nama agama,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam aksi teror di Desa Lembantongoa, Sigi, satu tempat ibadah umat Kristiani hangus terbakar, sejumlah rumah warga pun turut dibakar, serta satu keluarga dibunuh secara membabi buta. Berdasar kronologi yang dihimpun polisi, Jum’at (27/11) sekitar pukul 9 sampai 10.30 pagi, kurang lebih enam orang yang diduga kelompok Ali Kalora dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso mendatangi rumah warga dan merampas stok makanan di sana.
Selain merampas, mereka juga menganiaya hingga tewas dengan senjata tajam sepasang suami-istri, satu orang anak, dan satu orang menantunya. Sebelum lari ke hutan, mereka membakar enam rumah hunian warga serta satu rumah yang menjadi pos pelayanan Gereja Bala Keselamatan.
Situasi yang mencekam itu membuat warga yang tinggal di sekitar rumah korban ketakutan. Untuk mencegah tragedi lain, sekitar 150 keluarga di desa tersebut mengungsi dari tempat tinggal mereka yang masih sepi dan terpencil ke daerah yang lebih ramai penduduk. (cr2/gih)










