SEMARANG – Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang ditargetkan bakal dimulai tahun ini. Saat ini, pembangunan baru memasuki tahapan lelang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang Sapto Adi Sugihartono mengatakan, meskipun kajian atau Financial Business Case (FBC) masih belum selesai, ditargetkan pada tahun ini pembangunannya bisa dimulai.
“Tahun 2021 ini, direncanakan sudah mulai proses lelang proyek PLTSa Jatibarang. Dari lelang itu, nanti siapa yang akan mengelola PLTSa ini,” katanya saat dikonfirmasi, kemarin.
Sapto menambahkan, saat ini sudah ada puluhan investor yang menyampaikan minatnya untuk menjadi patner pemerintah Kota Semarang dalam pengelolaan PLTSa Jatibarang. Ia menjelaskan, mekanismenya nanti tetap siapa yang menjadi patner ditentukan dari proses lelang, dengan skemanya pembiayaan Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU).
Sehingga, lanjut Sapto, dengan adanya proyek PLTSa Jatibarang bisa mengurangi produksi sampah 1000 ton per hari. “Nantinya, kapasitas PLTSa ini bisa menghasilkan listrik sebesar 20 megawatt. Kapasitas ini, lebih besar dari PLTSa sebelumnya dengan teknologi landfill Gas, yang hanya sebesar 800 kilowatt,” katanya.
Sementara itu, salah satu calon investor, Piang Awal Kalim mengatakan, rencana pembangunan PLTSa di TPA Jatibarang pada awal tahun 2021. Lalu, pada 2023 sudah muali operasional. “Ini studi pembangunan PLTSa sudah hampir selesai, dan market sounding sudah dilakukan tahun 2019 lalu. Dan tinggal menunggu pelaksanaan tender,” katanya.
Perbedaan PLTSa ini nantinya, kata dia, dengan yang sekarang ada, dengan mengambil gas CH4 atau metan. Secara umum, masih meninggalkan sisa sampah. “Berbeda kalau dengan teknologi pembakaran sampah akan menjadi wast to energi yang minim limbah,” ujarnya.
Dikatakan, dengan teknologi insenerator ini tidak butuh waktu lama untuk memproses sampah sampai menghasilkan energi listrik. Tujuan utama menghilangkan sampah selama ini di kota kota lain belum ada.
“Sekarang yang sudah ada yang hilang hanya 20 persen. Dalam teknologi insenerator diatas 80 persen sampah hilang. Meski ada sisa bisa dimanfaatkan umtuk pembangunan jalan tol,” paparnya.
Menurutnya, melihat kndisi sampah di TPA Jatibarang yang masuk 1000 ton per hari, jika tidak diolah akan berdampak pada lingkungan. Di antaranya, longsor saat musim hujan, racun yang meresap ke dalam tanah. “Belum lagi efek penyakit lainnya, bisa kanker, dan berbahaya untuk ibu hamil,” imbuhnya. (git/gih)










