DI TERAS rumahnya, Dhani Yulianto memamerkan salah satu lukisannya. Ditemani secangkir kopi, lukisan tersebut ia buat disela-sela kesibukannya sebagai ASN di Bapenda Provinsi Jawa Tengah. Idenya terinspirasi dari bangunan-bangunan yang mempunyai ciri khas di Kota Semarang dan pemandangan alam di sekitar rumahnya.
Dhani, sapaan akrapnya, mulai menekuni hobi melukis sejak tahun 2014. Bermula ia tertarik untuk membeli salah satu karya di suatu event seni lukis, tetapi harga yang dipatok saat pameran cukup mahal untuknya. Dengan keuangan yang terbatas, maka ia memilih untuk belajar seni melukis secara otodidak. “Dasarnya aku memang seneng seni, dulukan seni musik, maen band. Terus suka lukisan, mau beli mahal, ya udah nekat latihan lukis sendiri,” katanya saat ditemui, belum lama ini.
Awalnya, media yang sering dipakai menggunakan kanvas dan cat minyak. Lama-lama kurang cocok, kemudian beralih ke akrilik karena cepat kering. Walaupun secara warna lebih bagus cat minyak. Juga karena jika menggunakan cat minyak, saat kuas dibersihkan baunya lebih menyengat. Tema yang sering adalah alam dan bangunan serta mengaku mempunyai aliran lukis naturalis. Dhani mengungkapkan, pertama kali melukis, dia mencontoh dari lukisan lain. Seperti melihat dan mengambil dari foto-foto teman yang ada di FB atau IG, yang sebelumnya meminta izin untuk dilukis gambarnya. Kemudian, ide mulai dikembangkannya sendiri.
Saat ini, bapak dua anak tersebut lebih fokus pada sket sadan lukisan. Bedanya, menurutnya sket itu lukisan yang belum jadi, gambarnya tidak utuh, juga tidak memerlukan waktu lama. Hanya saja menampilkan ciri tertentu sebuah objek yang harus tersampaikan. Untuk sebuah karya lukis dengan media kanvas dan cat akrilik menghabiskan waktu 10-12 jam non-stop, untuk ukuran 1 meter x 80 cm. Tergantung juga waktu dan suasana hati. Dia menjelaskan, inspirasi lukisan mengambil dari bangunan-bangunan yang iconic di Kota Semarang dan pemadangan alam.
“Biasanya kalau ngelukis pemandangan pas saya liat sendiri, soalnya rumah kan di desa. Atau dari media, model-model lukisan yang ada di media social hanya untuk inspirasi saja. Saat sudah menemukan ide maka terkadang saya menggabungkan gambar di foto tersebut dengan bangunan atgau tempat iconic di semarang. Seperti lukisan ini yang baru selesai 60 %” ujarnya.
Pertama lukisan dibuat dengan sentuhan tangan langsung (konvensional), menggunakan seluruh panca indra. Lalu, sejak ada era digital banyak seniman yang beralih melukis secara digital. Hal itu menjadi tantangan, bukan dihasilnya, tapi mendesain produknya dalam bentuk lain, inovatif. Hanya memang pangsa pasarnya beda, kembali ke selera konsumen. Dia merasa masih menyukai untuk melukis langsung di kanvas dan kertas gambar secara konvensional.
“Saya ini bukan pelukis professional, masih belajar dan Basic saya Cuma hobi saja, jadi jarang menerima pesanan. Saya ingin menikmati hasil karya sendiri, menuangkan apa yang saya sukai dengan nyaman, tanpa merasa tertekan dengan permintaan-permintaan dari pemesan lukisan. Perkara nanti ada yang menghargai dalam nominal, itu bonus buat saya,” terangnya, yang juga seorang drummer.
Untuknya melukis masih merupakan hobi. Misal ada yang komentar lukisannya bagus, itu sudah merupakan kebanggaan tersendiri baginya. Pria kelahiran Klaten dan besar di Purwokerto sebelum akhirnya pindah ke Semarang itu memilih tidak menerima pesanan, walaupun lukisannya sering dibeli orang. Ia memilih menikmati proses melukis, menuangkan dengan rasa nyaman dan Menghindari pesanan seperti wajah atau hewan piaraan, takut tidak mirip katanya.
“Saya menolak menulis wajah. Bukan apa-apa, sederhana saja. Kalau gambar alam, pemandangan, atau gedung-gedung, gak mirip, mereka tidak protes,” sambungnya sambal tertawa.
Pria yang juga sebagai dosen di Universitas Terbuka itu ikut dalam komunitas Semarang Sketch Walk, tempat kumpulnya para seniman lukis. Di situ, Ia bisa menimba ilmu, sambil menambah pertemanan. Mulai ikut komunitas dari tahun 2016, sampai sekarang. Biasanya, tema yang diambil komunitas itu untuk mempromosikan Kota Semarang dan Jawa Tengah. Komunitasnya sering membuat event pameran, baik di luar kota atau di beberapa tempat di Semarang. Hasilnya di-upload di laman masing-masing. Tempat yang sering mereka tempati untuk berkumpul dan membuat sket yaitu lawang sewu, kota lama, kuil atau vihara, karena banyak tempat atau bangunan yang menarik.
Dhani berharap kedepannya masyarakat lebih menghargai seni, karena sekarang masyarakat lebih suka membeli sesuatu yang sifatnya dijadikan ikon prestisius mereka. Membeli sebuah karya seni tidak hanya membeli sebuah objek saja, tapi mereka membeli berjam-jam proses latiahan si seniman, kegagalan-kegagalan, rasa frustasi dan rasa senang dari si seniman dalam menjalani proses seninya. Jadi sebenarnya saat seseorang membeli sebuah karya seni, yang didapatkannya adalah sebuah objek dengan berbagai peristiwa yang dialami oleh si seniman selama proses membuat karya seni tersebut, imbuhnya.
“Kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi space dan waktu yang sering untuk pameran, karena biaya untuk pameran itu mahal. Ya membantu untuk ajang pameran. Entah secara konvensional maupun di media sosial,” kata alumni Doktor Administrasi Publik UNDIP itu. (ziz/gih)













