UMKM  

Berdayakan Sesama Difabel melalui KUB

KUB Sami Aji
ANTAR BARANG: Proses pengiriman produk ke konsumen di KUB Sami Aji, belum lama ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

MEMILIKI predikat sebagai seorang difabel tak lantas membuat Mohammad Said berkecil hati. Kekurangan yang ia miliki justru dijadikan motivasi, untuk bisa membantu sesama penyandang disabilitas, agar bisa mandiri dari segi ekonomi.

Bukan tanpa sebab, keinginannya membantu para difabel dikarenakan kondisi masyarakat yang masih sering memandang sebelah mata penyandang disabilitas. Hal itulah yang kemudian menjadi pemicu pria berusia 35 tahun tersebut tergerak untuk membantu memberdayakan orang berkebutuhan khusus.

Melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang dirintis sejak 2018, Said bertekad menjadikan usaha tersebut sebagai wadah bagi para difabel untuk bisa berkembang. Meski begitu, usaha yang bergerak di bidang olahan pakan ternak tersebut tidak seluruhnya digerakkan oleh penyandang disabilitas.

“Tujuan utama pembentukan KUB Sami Aji ini memang untuk membantu sesama difabel. Sesuai namanya yaitu ‘Sami Aji’, yang berarti sama rata atau setara. Saya ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa mandiri dan produktif seperti orang pada umumnya,” kata Said, belum lama ini.

Sampai saat ini, KUB Sami Aji telah memiliki 20 anggota dan tujuh di antaranya merupakan orang berkebutuhan khusus. Pembagian tugas bagi para difabel tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Selain itu, usaha tersebut juga telah memiliki 12 mitra di lingkup Keresidenan Pati.

“Cakupannya memang masih di Keresidenan Pati, tapi untuk memenuhi kebutuhan itu saja kami sudah lumayan kewalahan. Karena memang permintaan terus ada, bahkan bisa dibilang tinggi. Sampai kami harus produksi setiap hari untuk bisa memenuhi permintaan dari pelanggan kami,” terangnya.

Pria asal Kudus tersebut mengungkapkan, KUB Sami Aji siap membantu para difabel, khususnya di wilayah Kudus yang memang berniat untuk berkembang. Dengan catatan, bantuan yang diberikan harus dijalankan sesuai amanah dan benar-benar digunakan untuk usaha.

“Beberapa kali kami pernah membantu (difabel, red), tapi beberapa di antaranya hanya semangat ketika mengajukan saja. Kelanjutannya semakin loyo, itu yang kami tidak ingin. Jadi kami buat skala prioritas, mana yang kira-kira memang benar-benar membutuhkan, itu yang kami bantu. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan mereka seperti apa,” paparnya. (abd/gih)