SEMARANG, Joglo Jateng – Suhartini, guru kelas VI SDN Ngemplak Simongan 02 terlihat sibuk mengalihkan ketakutan siswanya dengan mengajak mereka mengobrol. Ia membolehkan anak didiknya untuk memeluk dirinya dan tidak melihat jalannya vaksinasi.
Har, sapaan akrabnya, mengatakan kepada muridnya bahwa vaksinasi tersebut seperti digigit semut. Sehingga tidak perlu takut untuk disuntik. Ia menyebutkan, anak-anak juga tidak menangis saat dilakukan vaksinasi.
“Selama ini tidak ada yang nangis, cuman pada ‘kaku’. Cara mengatasinya ya rada ceriwis, harus banyak cerita,” ujar guru kelas VI tersebut, Selasa (18/1).
Siswa/siswi SDN Ngemplak Simongan 02 mengaku tidak takut divaksin. Dika, murid kelas 2A mengatakan bahwa ia berani. Begitu juga dengan Dere dan Clarista. “Berani, kan udah vaksin pertama. Aku juga sudah sarapan tadi,” ucap Dika.
Menurut Kepala Sekolah Mujiyono, wali murid mendukung kegiatan vaksinasi dan ingin memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Ditinjau dari vaksinasi pertama, vaksinasi kedua ini lebih terkoordinir.
“Saat vaksin pertama, kebetulan ada acara jadi tidak bisa memantau. Jadi sempat ada kerumunan karena wali murid ingin melihat proses vaksinasi. Sekarang sudah tersedia ruang sendiri-sendiri.” ucapnya.
Vaksin kedua di SDN Ngemplak Simongan 02 tersebut terbagi menjadi 3 sesi. Untuk sesi pertama dimulai pukul 08.00-08.30 untuk murid taman kanak-kanak (TK), sesi kedua pukul 08.30-10.00 untuk murid kelas I-III SD, sedangkan sesi terakhir pukul 10.00-11.30 untuk kelas IV – VI. Program tersebut diikuti oleh 18 murid TK PGRI 16 Ngemplak Simongan dan 294 murid SD Ngemplak Simongan 02.
Dian Agustina selaku nakes Puskesmas Ngemplak menjelaskan bahwa selama vaksinasi berjalan tidak ada efek yang ditimbulkan. Vaksin yang digunakan adalah vaksin sinovac. “Tidak ada keluhan, lancar-lancar saja, tidak ada kejadian yang tidak diinginkan,” jelasnya. (cr2/gih)










