Budaya  

Akulturasi Ragam Budaya di Pemalang

budaya tradisional yang ada di Pemalang
RAGAM: Salah satu seni tari dari berbagai ragam budaya tradisional yang ada di Pemalang. (UFAN FAUDHIL / JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Pada era Majapahit, Pemalang merupakan wilayah perdikan (tidak dipungut pajak). Hal itu karena tokoh Pemalang diminta bantuan oleh Mahapatih Gajahmada dalam menaklukkan wilayah Nusantara.

Berdirinya Pemalang memiliki sejarah panjang. Mulai dari masyarakat hingga ragam budayanya. Budaya yang ada di Pemalang merupakan akulturasi dari beberapa daerah lain. Itulah sebabnya dijuluki Pemalang Tanah Perdikan.

Pada tahun 1575, Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa. Yang bebas dari sistem kerajaan manapun. Status tersebut yang kemudian menjadikan siapa saja bisa masuk dan tinggal di Pemalang.

“Karena termasuk tanah perdikan, Pemalang mempunya sistem pemerintahannya sendiri. Tidak bergantung dengan kerajaan lain. Wilayah ini bebas dari sistem kerajaan. Sehingga orang berbagai kerajaan dapat masuk tanpa khawatir adanya konflik,” ungkap Rabadi, salah seorang pemerhati budaya saat diwawancarai di Pemalang, belum lama ini.

Banyaknya orang yang keluar masuk ke tanah perdikan menyisakan jejak, cerita dan budaya. Hal tersebut yang menjadikan keberagaman budaya tercipta di Pemalang saat ini.

Kebudayaan tersebut tertuang mulai dari kuliner, seni tari, bahasa, hingga adat istiadat. Yang memiliki masing-masing perbedaan di setiap desa. Contoh logat bahasa, baik dari ujung utara hingga selatan, maupun timur ke barat, memiliki perbedaan tersendiri.

Di samping itu, Rabadi menuturkan, banyaknya pelancong yang datang dan bebas keluar masuk Pemalang jaman dahulu, menyisakan banyak makam dan petilasan di Pemalang. Bahkan dari tempat tersebut, hingga kini ada yang dipercaya oleh sebagian masyarakat umum dan juga kalangan pejabat, memiliki mitos sebagai sarana ritual untuk mencari kemakmuran, kekuasaan, atau kekayaan.

“Ya banyak mitos. Contohnya sumur-sumur tua di Pendopo lama Bupati Notonegoro itu. Nah itu sering menjadi tempat untuk ritual pejabat, dan bukan rahasia lagi. Mereka melakukannya untuk memperoleh kekuasaan, kekayaan ataupun kenaikan pangkat/jabatan,” tandasnya.

Di sisi lain, Pemalang juga memiliki keanekaragaman kuliner. Hapir semua kuliner khas tetangga, ada di Pemalang. Seperti nasi megono dari Pekalongan dan batang, mendoan dari Purwokerto, nasi lengko dari Tegal, semuanya ada di Pemalang.

Menurutnya, ini merupakan hasil dari percampuran budaya. Sehingga budaya yang ada di Pemalang merupakan akulturasi budaya dari beberapa daerah lain.

“Sebutan ‘Pemalang Pusere Jawa’ juga cocok dengan Pemalang. Karena percampuran Budaya yang ada di Kabupaten Pemalang, merupakan representasi budaya di Pulau Jawa atau lebih spesifik miniatur pulau jawa,” paparnya. (fan/fif/all)