KUDUS, Joglo Jateng – Pementasan lakon sejarah di Taman Padang Mbulan Wates, Undaan, Kudus, Sabtu (10/1/2026) malam, berlangsung dengan nuansa yang berbeda. Di balik kelir kayu dan sorot lampu, nasib seni tradisi Wayang Klithik Wonosoco kini tengah berada di persimpangan jalan akibat krisis regenerasi.
Seni pedalangan kayu yang telah hidup ratusan tahun di Desa Wonosoco ini kini hanya ditopang oleh satu dalang aktif, yakni Ki Sutikno. Sebagai generasi kedelapan, ia memikul beban berat untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Doa
Ki Sutikno tak bisa menyembunyikan kegelisahannya melihat kondisi seni tradisi ini. Baginya, ancaman terbesar bukan hanya minimnya penerus, tetapi hilangnya esensi wayang sebagai “suara leluhur” desa.
Berbeda dengan wayang kulit yang membawakan epos Mahabharata, Wayang Klithik mengangkat kisah lokal (Babad), konflik kekuasaan, hingga relasi manusia dengan alam.
“Wayang Klithik bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa. Jika tidak diwariskan, semua itu bisa hilang,” tutur Ki Sutikno dengan nada prihatin.

Program Penyelamatan ‘Sang Dalang Terakhir’
Kondisi kritis ini mendorong penggiat budaya asal Kudus, Bustomy Rifa Aljauhari, menggagas program “Sang Dalang Terakhir”. Program ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP melalui Dana Indonesiana sebagai upaya penyelamatan melalui:
- Dokumentasi Film: Merekam jejak visual pertunjukan.
- Penguatan Ruang Pertunjukan: Mengembalikan marwah pementasan.
- Edukasi Komunitas: Melibatkan generasi muda untuk mengenal sejarah lokal.
Bustomy menjelaskan, Wayang Klithik memiliki hubungan erat dengan ritual merti sumber di Pegunungan Kendeng Utara.
“Wayang Klithik adalah praktik budaya hidup. Di dalamnya tersimpan pengetahuan tentang sejarah lokal, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai spiritual masyarakat Jawa,” ujar Bustomy.
Pemerintah Dorong Pemanfaatan Teknologi
Upaya pelestarian ini mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto, menekankan bahwa Wayang Klithik Wonosoco adalah kekayaan budaya khas yang harus dikenal lebih luas.
Ia berharap pelestarian tidak hanya berhenti pada fasilitasi kegiatan, namun juga merambah ke inovasi digital.
“Harapannya, Wayang Klithik dikenal lebih luas dan tidak berhenti pada satu generasi. Peran pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi dan ruang publik agar Wayang Klithik tetap relevan,” tegas Jatmiko. (adm/iza)










