Oleh: Dwi Lulus Priyatina, S. Pd.
Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Karanganyar, Kab. Demak
KETERAMPILAN berbahasa memiliki empat komponen, diantaranya yaitu mendengarkan atau menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Depdiknas 2004: 4). Keterampilan berbicara tidak datang begitu saja dalam diri setiap orang. Mula-mula orang belajar menyimak, kemudian berbicara. Maka dari itu keterampilan berbicara dapat diperoleh dengan banyak latihan dan praktik. Menurut Dallman dalam Syafei (1981:18) keterampilan yang diperlukan untuk berbicara dengan baik adalah berapa kemampuan mengucapkan kata-kata dengan benar, menggunakan kata-kata secara tepat sesuai dengan maksud yang dinyatakan, menggunakan kalimat efektif, dan mengorganisir pokok-pokok pikiran dengan baik.
Peserta didik diharapkan dapat menyerap aspek-aspek keterampilan berbicara agar memiliki keterampilan berbicara yang baik. Namun, peserta didik masih mengalami kesulitan terutama pada diksi dan pelafalan. Salah satu penyebabnya yaitu pendidik masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Pendidik hanya menjelaskan bagaimana berbicara yang baik dan benar, dimana peserta didik tidak diberi kesempatan untuk berlatih berbicara.
Dalam pembelajaran bahasa Jawa, seorang guru harus menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan menarik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini, sebaiknya proses belajar peserta didik tidak hanya memanfaatkan potensi peserta didik saja tetapi guru juga harus lebih kreatif sehingga mampu mengombinasikan pembelajaran dengan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran.
Ketika masa pandemi, hampir seluruh peserta didik memiliki gawai pintar. Baik untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ataupun dalam membuat dan mengumpulkan tugas yang berupa teks atau video rekaman. Merekam berbagai jenis kegiatan dalam sebuah video menjadi populer belakangan ini. Terutama di kalangan anak SMA, hal tersebut juga dikenal dengan istilah vlog. Vlog sendiri sebenarnya berasal dari kata vidblogging yang artinya suatu bentuk kegiatan blogging yang menggunakan video di atas penggunaan teks atau audio sebagai sumber media. Untuk membuat blog video, dibutuhkan perangkat dengan perekam video seperti kamera digital, webcam, gawai pintar berfitur video, maupun handycam.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis menggunakan metode penugasan membuat vlogging tentang materi pembelajaran teks deskripsi Busana Adat Jawa yang berbahasa Jawa di kelas XII IPS 5 SMA N 1 Karanganyar Demak. Melalui tugas membuat video rekaman tersebut peserta didik akan berlatih berbicara di depan kamera dan tidak ada pilihan lain selain harus mempersiapkan teks yang nantinya harus dihafalkan. Setelah peserta didik latihan berbicara bahasa Jawa di depan kamera, peserta didik lebih percaya diri saat berbicara di depan kelas.
Persiapan sebelum pengambilan video yaitu persiapan teks dalam hal ini menerjemahkan teks deskripsi tentang busana adat Jawa yang telah dibuat ke dalam bahasa Jawa, membuat peserta didik secara tidak langsung mempelajari penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar. Pengambilan video yang tidak hanya satu kali dan latihan berkelompok juga membuat peserta didik mempelajari cara pengucapan dalam bahasa Jawa. Selain itu, peserta didik juga tidak berekspresi kaku di depan kamera karena mereka juga diharuskan untuk berperan secara alami sehingga peserta didik akan terbiasa dan percaya diri saat praktek berbicara di depan publik. Melalui vlog peserta didik dapat berlatih kemampuan berbicara di luar kelas dan dalam vlog tersebut peserta didik akan mendapat umpan balik dari sesama unggahan vlog peserta didik dan juga mendapat umpan balik dari vlog yang di unggah oleh guru.
Adanya metode vlogging tersebut memudahkan peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Jawa. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa, menggunakan metode vlogging dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Jawa terbukti meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik dalam lima aspek: kosakata, pengucapan, tata bahasa, kelancaran, dan pemahaman. (*)








