Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa

Oleh: Enny Elviana,S.Ag.,M.Pd.I
Guru Sejarah Kebudayaan Islam MTs Nahdlatusy Syubban, Kec. Sayung, Kab. Demak

BIDANG Studi Sejarah Kebudayaan Islam dalam kurikulum madrasah Tsanawiyah adalah  salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, dan menghayati Sejarah Kebudayaan Islam. Yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.

Bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam dapat berperan aktif dalam upaya sosialisasi dan internalisasi berbagai nilai-nilai yang saat ini dirasakan sangat perlu ditekankan, antara lain (untuk menyebutkan beberapa yang dasar) keimanan dan kasih sayang, keadilan dan kepekaan pada golongan lemah dan kurang mampu, tanggung jawab pada kepentingan umum, hormat kepada sesama, kejujuran dan kelugasan, solidaritas dan keterlibatan social, kesatuan, kreatifitas, rasionalitas, ketekunan, ketertiban dan lain-lain.

Pembelajaran  bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam dapat pula memberikan sumbangan pada pembangunan, pengertian, solidaritas dan toleransi antar manusia. Mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Pemahaman dan pengetahuan tentang nilai-nilai Budaya dan Karakter Bangsa bukanlah kodrat yang menempel pada tiap pribadi, diperlukan sebuah proses realisasi untuk menghidupkannya dalam kesadaran atau bahkan dalam alam sadar kita.

Sebagai seorang manajer yang mengelola pembelajaran, seorang guru (pendidik) mempunyai mempunyai pesan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan telah direncanakan. Ibarat sebuah kapal maka guru adalah nahkoda kapal tersebut, yang mengarahkan kemana kapal itu akan berlabuh dalam proses yang ditampilkan oleh seorang manajer.

Sebagai kekuatan sentral yang berfungsi sebagai ujung tombak terjadinya perubahan, maka seorang guru yang ideal paling tidak harus mampu mengembangkan pembelajaran pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di lingkungan Madrasah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan Madrasah. Untuk menunjang penerapan pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Madrasah, semua Stakeholder pendidikan sebisa mungkin tidak hanya mengajarkan apa yang terdapat dalam nilai-nilai keteladanan yang mesti diajarkan sebagai cermin pembentukan Budaya dan Karakter Bangsa.

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan penulis di MTs Nahdlatusy Syubban Sayung mengupayakan menciptakan proses pembelajaran secara kondusif dengan suasana edukatif agar siswa dapat  melaksanakan tugas belajar dengan antusias dan optimal. Dengan melibatkan aktivitas siswa melalui pendekatan dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang sedang disajikan. Salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran.

Evaluasi pembelajaran yang diterapkan yaitu dengan melakukan pengawasan terhadap program yang ditentukan. Evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan menganalisis dan mengevaluasi informasi kegiatan belajar siswa. Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran baik secara penugasan maupun portofolio. Evaluasi dalam bentuk nilai kognitif semestinya bisa menggambarkan sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap nilai budaya dan karakter bangsa yang terintegrasi dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, namun tetap tidak bisa dijadikan tolak ukur proses implementasinya, karena mencantumkan aspek afektif dan psikomotorik.

Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang penulis terapkan di MTs Nahdlatusy Syubban Sayung dimulai dengan berbaris di luar kelas dengan tujuan untuk mengetahui kesiapan siswa dalam belajar, kerapian dalam berpakaian, dan disiplin dalam waktu. Kemudian dilanjutkan dengan doa dan tadarus Al-Qur’an bersama di dalam kelas dengan kisaran waktu 10-15 menit. Selain itu, terdapat program yang menerapkan secara kontinu pelaksanaan Shalat Dhuha pada setiap kelasnya, melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah dan pembacaan surat yasin setiap hari jum’at. Walaupun penerapan pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai Budaya dan karakter Bangsa dari penerapan pembelajaran yang dilakukan selama ini. (*)