Mudah Pahami Unggah-ungguh Basa dengan Make a Match

Oleh: RITO, S.Pd.
Guru SDN 02 Botekan, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

HINGGA memasuki tahun ajaran baru 2021/2021, seluruh sekolah dasar di wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang masih menerapkan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Kebijakan ini dilaksanakan mengingat pandemi belum juga berakhir dengan adanya varian baru Covid-19. Siswa belajar secara klasikal dengan tetap mematuhi protocol kesehatan.

Beberapa model atau metode pembelajaran kooperatif menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di kelas. Tidak terkecuali di kelas II SDN 02 Botekan Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang pada muatan pelajaran Bahasa Jawa materi Unggah-ungguh Basa. Guru memilih model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada penyajian materi pada ini dengan sistem permainan di luar kelas. Model ini dipilih demi ketercapaian 4 kompetensi yang diamanatkan dalam kurikulum 2013 yaitu KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4.

Menurut Tarmizi, dalam Novia (2015 : 12), model pembelajaran make a match artinya siswa mencari pasangan setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban) lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Model pembelajaran ini cocok diterapkan dengan skenario permainan dengan reward dan punishment. Dengan adanya penghargaan dan hukuman, siswa akan berlomba-lomba memperoleh hasil yang baik agar dalam permainan tidak mendapat hukuman. Dalam permainan ini, hukuman bukan bersifat kekerasan fisik, melainkan dilakukan dengan model permainan pula.

Praktik pembelajaran Unggah-ungguh Basa yang disajikan dalam bentuk permainan mencocokkan kartu pertanyaan dan kartu jawaban dilakukan dengan cara berikut. 1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Kartu terdiri dari 2 jenis, yaitu kartu pertanyaan dan kartu jawaban,  setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. 2) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Pada sesi ini, guru menentukan alokasi waktu kepada siswa untuk menemukan pasangan kartu yang dipegang.

3) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu, diberi poin, sedangkan siswa yang tidak dapat menemukan pasangan kartunya, akan mendapat hukuman. Hukuman dapat berupa permainan menggendong teman yang berhasil, bernyanyi atau dalam bentuk pemberian kuis atau teka-teki. 4) Setelah satu babak selesai, kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Permainan ini akan dilakukan secara berulang sampai semua siswa mendapatkan semua kartu soal beserta jawabannya. 6) Kesimpulan. Dengan bimbingan guru, siswa menyimpulkan materi sebagai catatan untuk dipelajari kembali di rumah.

Model pembelajaran make a match banyak diterapkan pada kelas rendah karena memiliki kelebihan. Di antaranya, 1) dapat menciptakan suasana aktif dan menyenangkan dalam bentuk permainan, 2) materi yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa, 3) dapat meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar, 4) suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran, 5) tercipta kerja sama antar siswa terwujud secara dinamis, 6) terciptanya dinamika gotong royong yang merata diseluruh siswa.

Selain memiliki kelebihan, model pembelajaran make a match memiliki beberapa kelemahan. Antara lain, 1) guru selalu melakukan pendampingan, 2) alokasi waktu yang tersedia perlu dibatasi agar siswa terlalu banyak bermain, 3) guru perlu menyiapkan alat dan bahan yang cukup memadai. 3) pada kelas dengan jumlah siswa yang banyak, model ini dapat menciptakan suasana keributan. Bila guru lengah dalam mengawasi dan mendampingi siswa, dapat memicu pertengkaran siswa.

Pada akhir tulisan, penulis menyarankan agar model pembelajaran make a match dalam bentuk permainan diterapkan khususnya pada siswa kelas rendah karena pembelajaran dengan model permainan dapat memberikan pengalaman belajar yang berkesan bagi siswa. (*)