Oleh: Muftahiyah, S.Pd
Guru SDN 01 Blendung, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang
PENDIDIKAN dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Pembelajaran merupakan wujud dari pelaksanaan pendidikan. Menurut Kurikulum KTSP (2006: 486), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan merupakan suatu proses penemuan.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengandung tiga hal, yakni proses (usaha manusia memahami alam semesta), prosedur (pengamatan yang tepat dan prosedurnya benar), dan produk (kesimpulannya betul). Pertama, belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor). Kedua, perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan. Ketiga, perubahan tersebut relatif menetap. Perubahan yang merupakan hasil belajar relatif permanen karena diperoleh dengan cara yang wajar, lain dengan yang diperoleh secara tidak wajar misalnya pengaruh obat-obatan (doping) dapat berubah-ubah.
Selanjutnya, pengertian hasil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 343) adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dsb.) oleh usaha. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merubah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam maupun dari luar individu kearah perubahan yang lebih baik atau yang lebih maju. Metode yang dapat digunakan untuk meingkatkan hasil belajar siswa adalah metode diskusi.
Metode diskusi digunakan dalam rangka pembelajaran kelompok atau kerja kelompok yang didalamnya melibatkan beberapa orang siswa untuk menyelesaikan pekerjaan, tugas atau permasalahan. Kegiatan diskusi ini dapat dilaksanakan dalam kelompok kecil (3-7 peserta) kelompok sedang (8-12) peserta kelompok besar (13-40) peserta, ataupun diskusi kelas. Diskusi kelompok kecil lebih efektif daripada diskusi kelompok besar atau diskusi kelas. Kegiatan diskusi dipimpin oleh seorang ketua atau moderator untuk mengatur pembicaraan.
Adapun karakteristik penerapan metode diskusi adalah bahan pelajaran harus dikemukakan dengan topik permasalahan atau persoalan yang akan menstimulus siswa menyelesaikan permasalahan/persoalan tersebut. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, perlu dibentuk kelompok yang terdiri dari beberapa siswa sebagai anggota kelompok dalam kelompok tersebut. Kelancaran kegiatan diskusi sangat ditentukan oleh moderator yaitu orang yang mengatur jalannya pembicaraan supaya semua siswa sebagai anggota aktif berpendapat secara maksimal dan seluruh pembicaraan mengarah kepada pendapat/kesimpulan bersama.
Tugas utama guru dalam kegiatan ini sebagai pembimbing, fasilitator, atau motivator supaya interaksi dan aktivitas siswa dalam diskusi menjadi efektif. Aktivitas siswa harus dibimbing, dan diterapkan cara berpikir yang sistematik dengan menggunakan logika berpikir yang ilmiah.
Pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi yang dilaksanakan secara efektif akan berdampak banyak kepada pengalaman siswa. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. 1) Guru menyampaikan tujuan yang diharapkan. 2) Membentuk kelompok untuk berdiskusi yang terdiri dari 5 siswa tiap kelompok. 3) Menjelaskan yang harus dilaksanakan oleh tiap kelompok. 4) Memberi tugas pada siswa untuk melaksanakan diskusi kelompok. 5) Memberikan nilai proses selama diskusi berlangsung. 6) Membimbing siswa dalam mempresentasikan hasil diskusi kelompok. 7) Membantu siswa menyimpulkan hasil diskusi kelompok. 8) Memberikan evaluasi. 9) Membuat kesimpulan bersama-sama siswa. 10) Menutup pelajaran. (*)








