PATI, Joglo Jateng – Panen garam di Kabupaten Pati pada 2022 diperkirakan akan mengalami keterlambatan. Hal itu dipicu akibat faktor cuaca yang kurang menentu belakangan ini. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati memprediksi bahwa kondisi tersebut akan berdampak pada penurunan produksi garam.
Kepala DKP Pati, Edy Martanto menjelaskan, dalam kondisi normal, panen garam berlangsung pada Juli hingga November. Akan tetapi di tahun ini akan mengalami perubahan.
“Pada tahun ini, musim kemarau diprediksi mundur. Jadi hujan terus mengguyur, maka akan terjadi keterlambatan. Kalau bisanya kan Juli, sedangkan ini April masih hujan,” katanya.
Edy menuturkan, musim penghujan tahun ini sedikit terlambat. Sehingga membuat masa produksi garam menjadi lebih singkat. “Biasanya Juli sudah mulai ada panen. Jadi, biasanya empat bulan, Juli hingga Oktober. Terkadang Oktober juga hujan,” imbuhnya.
Berdasarkan data dari DKP Pati, produksi garam pada 2021 juga tergolong rendah akibat faktor cuaca. Hanya menyentuh angka 98 ribu ton. Jumlah tersebut terpaut jauh jika dibandingkan dengan capaian saat musim kemarau panjang. Yakni bisa mencapai 350 ribu ton.
Sedangkan wilayah penghasil garam di Kabupaten Pati tersebar di beberapa titik. Yakni mulai Kecamatan Batangan, Juwana, Wedarijaksa, dan Trangkil. Adapun jumlah luasan areal secara keseluruhan ada 2,9 ribu hektare.
Diketahui pada saat kondisi stok garam terbatas akan membuat harga garam naik. “Tahun ini kalau banyak hujan rendah juga. Maka harga akan naik,” tandasnya. (cr7/fat)










