PEMALANG, Joglo Jateng – Sesuai dengan Surat Edaran Nomor 060/ 132/ Organisasi tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Pemalang, pada 19 Januari 2022 mewajibkan ASN memakai Batik Khas Pemalangan pada setiap hari Rabu dan Kamis. Hal tersebut disambut baik para pengrajin batik.
Lantaran, disinyalir meningkatkan pejualan batik mereka dan minat masyarakat terhadap Batik Khas Pemalangan. Para pengrajin juga mengucapkan rasa terima kasih kepada Bupati Mukti Agung Wibowo atas kepeduliannya terhadap produk lokal Pemalang.
Bupati Pemalang, Mukti Agung Wibowo menyebutkan, kebijakan disambut baik oleh para pengrajin batik. Karena gerakan ini merupakan salah satu kepedulian dan wujud implementasi rasa cinta, peduli serta bangga akan Pemalang.
“Gerakan ini merupakan awal dari gerakan lainnya. Di mana kami Pemkab Pemalang ingin menunjukan dan mengajak masyarakat untuk cinta, peduli dan bangga produk lokal. Seperti Batik Pemalangan dan sarung tenun goyor,” terangnya.
Salah satu pengrajin Batik Khas Pemalangan, Slamet Puji dari Batik Sekar Manggar Desa Jebed Utara, Kecamatan Taman, menyampaikan rasa terima kasih nya. Karena dengan kebijakan tersebut, omsetnya meningkat. Kedepan ia berharap, ada regulasi atau aturan yang mengatur lebih rinci mengenai motif batik yang dipakai. Agar memberikan kemudahan dan semangat produsen dalam memproduksi Batik Pemalangan.
“Kalau bisa ya ditentukan melui edaran tersebut, Hari Kamis motif A, Hari Rabu motif ini. Jadi keseragaman dilihat itu enak lho, dipandang juga oh ini rukun” tuturnya.
Salah satu motif Batik Khas Pemalang menurutnya yakni Kepiting Soka. Ia menjelaskan, filosofi batik tersebut ialah kepiting yang perkasa mengangkat Nanas dan dihiasi mangga pada capitnya. Menggambarkan penyatuan perbedaan antara nanas dari selatan dan mangga yang berasal dari Desa Penggarit, bersatu untuk membangun Pemalang. Kemudian diiringi oleh wanginya kembang widuri.
“Dari awal kita gambarkan samudera yang luas, kita ambil dari kepitingnya yang perkasa, itu menyatukan grup. Nanas kan dari kidul/selatan, kita satukan dibondong. Yang artinya ayo kita bersatu membangun kota yang dikawal dengan kembang Widuri dengan keharuman kembangnya,” paparnya.
Ia menambahkan, penyatuan segenap potensi Pemalang dalam selembar kain batik menunjukkan kesatuan tekad masyarakat Pemalang, dalam hal membangun daerahnya. Di mana tujuan dari gerakan ini, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi yang berbasis pada potensi lokal. Sesuai dengan Misi ke-5 Kabupaten Pemalang, sebagaimana tertuang pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pemalang Tahun 2021-2026.
“Siapa lagi yang peduli dan bangga, kalau bukan kita sendiri yang bangga dan cinta. Terutama pada produk lokal Batik Pemalangan sebagai salah satu ikon daerah,” imbuhnya. (fan/all)










