SLEMAN, Joglo Jogja – Dua distributor besar minyak goreng di Kabupaten Sleman, disebut-sebut mendapat gelontoran minyak goreng curah. Besarannya mencapai puluhan ton. Pendistribusian tersebut disebabkan oleh perubahan konsumsi minyak goreng masyarakat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman Mae Rusmi membenarkan hal tersebut. Menurutnya, saat ini sudah terlihat adanya peralihan penggunaan minyak goreng oleh masyarakat. Dari yang sebelumnya menggunakan minyak goreng kemasan, berubah menjadi minyak goreng curah.
“Minyak goreng hari ini di beberapa pasar aman. Kemudian di salah satu distributor, Ayunda, hari ini masuk 30 ton minyak goreng curah. Besok dijanjikan lagi ada sekitar 18 ton,” tuturnya belum lama ini.
Lebih jauh, selain Ayunda, ia juga mengungkapkan bahwa di distributor Arista juga masuk tambahan drop minyak goreng curah. Yakni sebanyak delapan ton. Kemudian akan mendapat tambahan distribusi sebanyak 20 ton.
Pihaknya berharap, tambahan minyak goreng itu bisa terdistribusi ke pasar-pasar tradisional. Karena adanya penambahan stok minyak goreng tersebut, menurutnya bisa membantah informasi yang sempat beredar perihal kelangkaan minyak goreng curah.
“Masih ada. Tidak sebanyak dulu tetapi masih ada. Hari ini lancar, tapi memang di beberapa pasar masih dijual di atas HET. Karena memang keterbatasannya,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, di pasar tradisional, minyak goreng curah dihargai sebesar Rp14.000 per liter. Kendati demikian, ia tak mengelak jika sejumlah pedagang masih ada yang membanderolnya dengan harga Rp16.000 atau Rp17.000 per liternya.
Menurutnya, saat ini harga kebutuhan di pasar mulai naik. Namun kenaikan harga tersebut masih dalam tahap wajar. Artinya, tidak sedrastis yang terjadi di daerah lain.
“Yang naik hari ini terigu, Rp10.000/Kg, naiknya 500 rupiah. Karena banyak kebutuhan membuat kue. Kalau komoditas yang lain masih normal, daging ayam malah turun. Hari ini turun dari Rp24.000 menjadi Rp23.000,” pungkasnya. (fif/bid)










