SEMARANG, Joglo Jateng – Kota Semarang tidak hanya identik dengan Lawang Sewu, Kota Lama, dan Lumpia saja. Berkunjung ke Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini tak lengkap rasanya jika tidak melakukan wisata religi. Salah satunya adalah ke Makam Ki Ageng Pandanaran atau Ageng Pandan Arang, salah seorang tokoh pendiri Kota Atlas.
Lokasi makam Ki Ageng Pandanaran berada di tengah kawasan padat penduduk. Tepatnya di Jalan Mugas Dalam II, Nomor 04, RT 07/RW 03, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Hingga sekarang, Makam Ki Ageng Pandanaran masih menjadi favorit masyarakat untuk berziarah dan beribadah. Bahkan, setiap momentum mendekati hari jadi Kota Semarang, sosoknya menjadi jujukan bagi Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Ketua Yayasan Sosial Sunan Pandanaran Semarang, H Agus Krisdiyono mengaku, ia tak tahu detail terkait meninggalnya Ki Ageng Pandanaran. “Dimakamnya hanya diterangkan pada abad ke-16 atau 1547,” katanya saat ditemui di lokasi, Minggu (8/5).
Agus menyebut bahwa ia merupakan keturunan dari Ki Ageng Pandanaran. Dia mengaku sebagai generasi ke-17. Sehingga, Agus bertanggung jawab untuk merawat makam tokoh pendiri Kota Semarang itu.
“Sebagai trah saya wajib menjaga makam dan mengelolanya,” tuturnya.
Agus menyebut bahwa Ki Ageng Pandanaran merupakan cucu dari Pangeran Suryo Panembahan Sabrang Lor atau Sultan kedua Kesultanan Demak, dan putra dari Maulana Ibnu Abdul Salam atau Pangeran Madiyo Pandan.
Semasa hidup, Ki Ageng Pandanaran merupakan penyiar agama Islam yang diutus oleh Sunan Kalijaga untuk berdakwah di area Semarang. Konon, kala itu Semarang masih berupa alas dan karang pinggir pantai.
“Beliau juga berhasil membuat sejumlah penduduk yang dulu masih memeluk agama Hindu menjadi agama Islam, termasuk istrinya bernama Endang Sejanila putri dari Pendeta Pragota,” jelasnya.
Tak hanya itu, seorang Penulis Sejarah Semarang Amen Budiman menyebut, Ki Ageng Pandanaran tidak hanya memiliki pengaruh agama yang kuat. Beliau juga memiliki kesaktian. Sebut saja penuturan beliau yang pernah mengubah wajah tiga orang yang mengganggu istrinya menjadi domba.
Kesaktian lainnya, Ki Ageng Pandanaran serupa seperti Nabi Musa yang bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Berdasarkan rujukan dari Historia.id, semua kesakitan yang dimiliki Ki Ageng Pandanaran didapat semenjak beliau menjadi murid Sunan Kalijaga.
Selain kesaktian, asal-usul nama Kota Semarang berasal dari perkataan Ki Ageng Pandanaran saat berdakwah di daerah Bubakan. Konon, beliau saat itu melihat pohon asem (asam) yang tumbuhnya jarang, namun subur. Melihat keanehan tersebut, beliau langsung memberikan nama “Semarang”.
Sebelumnya, Ki Ageng Pandanaran pernah tinggal dan membuka pesantren di Pulau Tirang Amper. Kini, lokasi itu merupakan daerah Mugas, Semarang Selatan. Tetapi beberapa waktu kemudian, pesantren itu dipindahkan ke daerah Pegisikan. Sementara Pandanaran membuka daerah baru yang sekarang dikenal sebagai Bubakan.
Setelah Semarang terbentuk, Ki Ageng Pandanaran menjadi adipati pertama karena dianggap sebagai pelopor berdirinya Kota Semarang.
Seiring berjalannya waktu, Semarang mulai berkemabnag pesat dan menjadi kadipaten di bawah Kesultanan Demak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, beliau wafat sekitar 72 tahun sebelum tahun 1547 Masehi. Maka pada tahun 1547, hari jadi Kota Semarang ditetapkan pada tanggal 2 Mei. Tanggal tersebut diambil dari pengangkatan Ki Ageng Pandanaran II atau Sunan Tembayat sebagai Bupati Semarang ke-2, setelah Ki Ageng Pandanaran selaku ayahnya. (dik/ern)










