PATI, Joglo Jateng – Berdasarkan pantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, harga minyak goreng kemasan dan curah belum sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Sebab pemerintah telah menetatapkan HET senilai Rp 14 ribu.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan (Disdagperin) Pati, Koeswantoro menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemantauan di beberapa pasar di wilayahnya. Hal tersebut guna mengontrol harga sembako khususnya minyak goreng curah.
“Kami tetap melakukan pemantauan di pasar. Agar harga minyak goreng yang di jual ke masyarakat bisa Rp 14 per liter. Tapi kalau sudah sampai ke pengecer, ataupun di pasar, itu bisa sampai Rp 15 ribu. Meskipun itu tidak perbolehkan. Karena HET-nya Rp 14 ribu,” jelasnya, Kamis (12/5).
Saat melakukan pemantauan, pihaknya mengaku menemukan beberapa pedagang yang menjual minyak goreng curah tidak sesuai HET. Menurutnya, kebanyakan pedagang di pasar tidak mau untung sedikit. Sehingga pihaknya terus melakukan melakukan himbauan kepada para pedagang tersebut.
“Kami melakukan pemantauan pengendalian agar harga minyak goreng tetap sesuai aturan yang berlaku. Ketika terjadi penyimpangan kami bisa melakukan pembinaan. Apabila terlalu akan kami laporkan ke dinas provinsi,” imbuhnya.
Dirinya berharap supaya harga minyak goreng khususnya curah dijual sesuai HET. Yakni untuk curah diharga Rp 14 ribu per liter atau Rp 15,5 ribu per kilo. Sedangkan harga minyak goreng kemasan, menurutnya harganya berbeda-beda
“Untuk minyak goreng kemasan premium itu bervariasi. Ada yang harganya Rp 23 ribu dan sebagainya. Sedangkan yang paling mahal Filma sama Sancho seharga Rp 25 ribu,” ungkapnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauannya di pasar, beberapa harga sembako telah mengalami penurunan usai Hari Raya Idul Fitri 1443. Sedangkan ia menyebut penurunan beberapa komoditas sekitar Rp 5 ribu.
“Hari Selasa (10/5) harga daging sudah terpantau turun hingga Rp 5 ribu. Yang tadi Rp 135 turun menjadi Rp 130 ribu. Sedangkan komoditas lain yang sudah alami penurunan daging yaitu ayam kampung, cabai merah lokal juga menurun, yang tadi Rp 55 ribu sudah menjadi Rp 50 ribu, selanjutnya bawang merah,” tutupnya. (cr7/fat)










