BL Optimalkan Siswa Belajar Bahasa Jawa di Masa PTM Terbatas

Oleh: Dra. Dwi Martini, M.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMP N 4 Sragen

UNTUK mengatasi dampak learning loss selama pandemi Covid-19, pemerintah melalui SKB empat menteri tertanggal 21 Desember 2021, pembelajaran tatap muka (PTM) bisa dilaksanakan dengan syarat tetap mematuhi protokol kesehatan yang dikenal dengan PTM Terbatas. PTM terbatas dengan seizin orangtua/wali siswa di SMP N 4 Sragen pada semester genap tahun pelajaran 2021/2022 dilaksanakan 3 jam setiap hari, 50% siswa melaksanakan daring dan 50 % melaksanakan tatap muka, sehingga guru harus menerapkan model pembelajaran yang tepat guna mencapai kompetensi yang ditargetkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru bahasa Jawa dalam pembelajarannya menerapkan model BL (Blended Learning) dengan harapan pembelajaran menjadi efektif dan efisien serta dapat membantu meningkatkan penguasaan kompetensi siswa. Sebab, pembelajaran online ataupun pembelajaran tatap muka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga dengan menggabungkannya, proses pembelajaran menjadi semakin optimal.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

BL merupakan sebuah lingkungan pembelajaran yang dirancang dengan menyatukan pembelajaran tatap muka (face to face/F2F) dengan pembelajaran online yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Garner & Oke: 2015). BL dapat menghemat waktu, sumber daya dan biaya, karena siswa bisa mengakses pembelajaran di mana saja dan kapan pun serta dapat dikembangkan secara fleksibel. Guru sebagai fasilitator bisa menyampaikan materi dengan berbagai macam, misalnya video konferensi, video tutorial, sharing modul dan sebagainya. Siswa merasa lebih nyaman, karena tidak menekankan pada cepat atau tidaknya menyelesaikan tugas menyesuaikan keinginan dalam ritme belajarnya.

Menurut Sari (2014), BL mampu memberikan banyak manfaat dalam meningkatkan prestasi, keberagaman pendapat, sehingga ketika pembahasan pada saat tatap muka akan lebih menarik dan lebih kritis. Model pembelajaran BL memiliki tiga komponen penting yaitu 1) online learning, 2) pembelajaran tatap muka, 3) belajar mandiri.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Siswa secara mandiri mencari informasi (seeking of information) yang relevan baik berupa konsep atau teori tentang topik yang dibahas melalui sumber-sumber belajar offline dan online untuk menemukan, memahami, serta mengkonfrontasikannya dengan ide atau gagasannya, kemudian menginterprestasikannya sampai mampu mengkomunikasikan (acquisition of information). Guru sebagai fasilitator dituntut mampu meramu kombinasi jenis assessment online dan offline baik yang bersifat tes maupun non-tes.

Adapun sintaks model pembelajaran BL sebagai berikut. 1) Persiapan. Guru merancang teknis pembelajaran BL, menentukan platform yang akan digunakan sebagai penunjang pembelajaran dan menyosialisikan kepada siswa. Siswa dibagi menjadi 2 kelompok (ganjil dan genap) dengan ketentuan kedua kelompok tersebut tidak melaksanakan pembelajaran secara bersama-sama di sekolah.

2) Pelaksanaan.  Pembelajaran tatap muka (luring) dan daring dapat dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Hari Senin, Rabu dan Jumat kelompok ganjil mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, maka kelompok genap mengikuti pembelajaran secara daring di rumah. Hari Selasa, Kamis dan Sabtu kelompok genap mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, maka kelompok ganjil mengikuti pembelajaran secara daring di rumah. 3) Penutup. Pada setiap akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengadakan refleksi dan kesimpulan tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberi evaluasi dan apresiasi kepada semua siswa yang terlibat pembelajaran.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Penerapan model pembelajaran BL mapel bahasa Jawa pada Kompetensi Dasar Memahami Sandiwara Tradisional Jawa kelas IX D SMP N 4 Sragen tahun pelajaran 2021/2022 membuat siswa belajar optimal dan memperoleh pembelajaran yang seutuhnya.  Selama pembelajaran siswa mempunyai sikap percaya diri, berinteraksi aktif dan kreatif sehingga memiliki kemampuan berpikir secara logis untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dan tercapainya tujuan pembelajaran. (*)