MEGA Optimalkan Pemahaman Peristiwa Budaya

Oleh: Drs. Suhardi
Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Sukodono, Kab. Sragen

MASYARAKAT Jawa mempunyai banyak ritual yang dilaksanakan secara rutin sebagai manifestasi dari cipta, rasa dan karsa, mengandung nilai luhur, berkembang serta dilaksanakan secara turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, dampak negatif dari derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi menjadikan dunia seolah nyaris tanpa batas (borderless), terkikislah identitas dan jati diri masyarakat Jawa (wong Jawa wis ilang Jawane). Padahal, orang Jawa terkenal dengan budaya yang adi luhung, sopan santun, dan ramah.

Selamat Idulfitri 2024

Memahami wacana deskripsi tentang peristiwa budaya merupakan salah satu kompetensi dasar mapel bahasa Jawa yang harus dikuasai oleh siswa kelas VII SMP N 1 Sukodono, Sragen. Namun, banyak siswa yang lebih suka budaya barat (berbicara, bergaul, dan berpakaian) tidak sesuai dengan budaya orang Jawa. Guru dalam mengajar hanya memakai satu buku sebagai sumber belajar dan mengajarkan siswa hanya untuk berpikir abstrak sehingga terkadang apa yang dijelaskan oleh guru siswa tidak begitu memahaminya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis sebagai guru bahasa Jawa dalam membina pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa dalam pembelajarannya menggunakan MEGA (Media Gambar). Dengan harapan mampu merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa untuk mencapai tujuan belajar yakni mampu memahami peristiwa budaya Jawa dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hamalik (1994: 95). MEGA adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bentuknya bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, strip, opaque projector.

Walaupun MEGA merupakan media visual dua dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar, namun mampu menjadi sarana yang sangat baik untuk membawa situasi dunia luar ke dalam ruang kelas dan mampu menyalurkan pengertian, penjelasan yang lebih lengkap dan konkrit.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Seorang guru menerangkan dan menjelaskan suatu materi dengan menggunakan MEGA lebih mudah dipahami oleh siswa dari pada seorang guru tersebut ketika menerangkan menggunakan uraian dengan kata-kata yang nantinya akan mengakibatkan siswa menjadi bosan untuk mendengarkannya (Dale: 1963). MEGA  yang penulis maksudkan adalah Flat Opaque Picture, tidak diproyeksikan, sangat sederhana karena merupakan perangkat lunak tidak tembus cahaya dan tidak dipantulkan pada layar, mudah pengadaannya serta relatif murah.

Adapun sintaks pembelajaran dengan MEGA sebagai berikut. Pertama, persiapan. Guru menyampaikan kompetensi dasar yang harus dikuasai, menyiapkan gambar-gambar, dan memberi rangsangan terhadap pengetahuan siswa tentang peristiwa budaya Jawa. Kedua, pelaksanaan. Siswa diperkenalkan gambar-gambar tentang peristiwa budaya, kemudian siswa diminta untuk mencermatinya dengan cara mereka sendiri namun tetap dalam pengawasan guru. Guru mengarahkan perhatian siswa pada sebuah gambar sambil mengajukan pertanyaan kepada siswa secara satu persatu dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pertanyaan sesuai materi yang diajarkan. Selanjutnya siswa mengerjakan LKS yang diberikan oleh guru untuk dinilai. Ketiga, penutup. Guru bersama siswa membuat kesimpulan dan memberi PR secara individu sebagai penguatan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan pengalaman diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan MEGA dapat mengoptimalkan pemahaman siswa terhadap wacana deskripsi tentang peristiwa budaya. Terbukti setelah diadakan penilaian pada Kompetensi Dasar tersebut, siswa kelas VII B SMPN 1 Sukodono, Sragen tahun pelajaran 2021/2022 dengan hasil  rata-rata 79,78 dan semua siswa nilainya atas KKM 70. Siswa diharapkan mampu membangun jati diri dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari, etika dan attitude harus diutamakan. (*)