UMKM  

Berawal dari Hobi Suka Masak, Emma Geluti Bisnis Brownies

HASIL: Emma Risty Hamidah sedang menunjukkan produk brownies yang ia buat, belum lama ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

DI usianya yang masih muda, Emma Risty Hamidah (21) telah membantu perekonomian keluarganya dengan menekuni bisnis brownies. Bisnis yang ternyata ia idam-idamkan sejak kecil itu, akhirnya sekarang mulai berjalan lancar.

Perempuan yang kerap disapa Emma itu mengaku, sejak kecil ia tertarik dengan dunia masak-memasak berkat hobi ibunya. Sadar dengan minatnya dan ketertarikannya, ia mulai mengembangkan bakatnya hingga menjadi bisnis yang menghasilkan cuan.

“Dari Sekolah Dasar (SD) saya sudah sering diajak bikin roti sama ibu, karena ibu juga punya hobi bikin roti, akhirnya saya mulai mengamati dan mempelajari berbagai resep sampai sekarang ini. Dari situ saya menyadari minat saya terhadap dunia masak-memasak ini. Dan akhirnya saya terus berusaha mengembangkan minat saya untuk menjadi bisnis,” ucapnya, belum lama ini.

Ia mulai merintis bisnisnya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), namun belum terlalu aktif. Hingga di tahun 2020 pada saat pandemi, ia mulai benar-benar fokus jualan. Ia mengaku tidak takut dengan efek pandemi bagi para pedagang kecil. Yang ia bisa lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin bagi bisnis yang sedang ia rintis kembali.

“Saya berani mengambil gebrakan di tengah-tengah pandemi corona. Waktu itu saya mengorbankan seluruh tabungan saya untuk modal bisnis ini, kalau memang saya niat bisnis ya sekalian aja melakukan yang terbaik. Untungnya, setelah saya jalani bisnis ini, ternyata pandemi ini tidak terlau berdapak ke bisnis, bahkan banyak orderan masuk untuk hajatan,” ungkapnya.

Produk yang ia jual di @handmadeby_emmaristy memiliki berbagai jenis, di antaranya brownies kukus, brownies panggang, brownies tart dengan gambar berbagai karakter, dan kue ulang tahun. Harganya pun bervariasi, mulai dari tart kecil Rp 6 ribu, brownies mulai dari Rp 20 hingga 40 ribu, sedang kue ulang tahun berkisar Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu.

“Di antara itu semua, pesanan yang paling laris brownies kukus karena biasanya buat hajatan, nikahan, sunatan, dan lain sebagainya. Kalau untuk tart kecil itu setiap harinya pasti setor ke pasar-pasar, saya setornya ke pasar welahan dan pasar kalinyamat,” terangnya.

Emma mengaku banyak pelanggan yang repeat order, karena mereka mengetahui kualitas dan rasanya sebanding dengan harga. Meski begitu, banyak juga yang membandingkan dengan buatan orang lain, karena di sana lebih murah. Namun, Emma percaya dengan rejekinya yang telah diatur oleh Tuhan.

“Waktu itu saya pernah mendapatkan orderan 800 brownies untuk hajatan, sudah prepare bahan-bahan tinggal dibikin. Ini terbilang banyak banget bagi saya, tapi waktu itu saya malah jatuh sakit. Setelah berbagai pertimbangan, daripada saya makin sakit dan brownies yang saya buat hasilnya tidak maksimal. Akhirnya saya cancel orderannya dan berusaha meng-ikhlaskan. Tapi terdapat hikmah dibalik itu, setelah saya sembuh, orderan juga makin banyak masuk. Jadi kalau memang sudah rezekinya, pasti tidak akan kemana,” tuturnya. (cr1/gih)