Mudahnya Belajar Karakteristik Anggota Tata Surya melaui TS-TS

Oleh: Sudibyo, S.Pd.SD
Guru SDN Ambokulon, Kec. Comal, Kab. Pemalang

MUATAN Pelajaran IPA merupakan pelajaran yang rasional atau nyata, serta untuk membuktikan kebenaran dan obyektivitas tentang alam semesta dengan segala isinya. Tujuan pembelajaran IPA  lebih menekankan ketrampilan proses. Dimana pendekatan dalam pembelajaran yang dirancang menuntun siswa menemukan langsung fakta-fakta, teori dan memahami konsep.

Selamat Idulfitri 2024

Pengembangan ketrampilan proses IPA perlu dilakukan melalui pembelajaran yang menyenangkan serta penggunaan metode atau model yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA. Selama ini, pembelajaran IPA di sekolah hanya membuat pengalaman belajar siswa kurang berkembang. Selain itu, metode konvensional lebih banyak diterapkan daripada penggunaan metode yang membimbing siswa pada pengalaman belajar yang menyenangkan.

Kebanyakan guru dalam mengajar kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa. Metode yang digunakan pun kurang bervariasi. Akibatnya, motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis. Hal ini membuat siswa merasa cepat bosan sehingga tidak tertarik lagi untuk mengikuti pelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Rendahnya hasil pembelajaran IPA materi karakteristik anggota tata surya tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja, namun juga karena faktor guru dalam menggunakan metode yang cocok untuk pembelajaran IPA. Hal ini karena pembelajaran harus sesuai dengan target dan harapan mata pelajaran. Yakni pengembangan bebagai potensi siswa seperti kognitif, afektif dan psikomotorik.

Untuk itu dalam pembelajaran kompetensi dasar terutama materi sistem tata surya dan karakteristik anggota tata surya, guru di SDN Ambokulon menggunakan metode Cooperative type Two Stay Two Stray (TS-TS).

Metode TS-TS menurut Ika Budiarti ( 2010 : 92 ) merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif yang memberi pengalaman kepada siswa untuk berbagi pengetahuan baik di dalam kelompok maupun dalam kelompok lainnya. Dalam pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan temannya ketika sedang bertamu, yang secara tidak langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang diutarakan oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dalam proses ini, akan terjadi kegiatan menyimak materi pada siswa.  Tujuan dari pada metode ini adalah agar siswa dapat saling bekerja sama, bertanggung jawab dan saling membantu memecahkan masalah serta saling mendorong untuk berprestasi.

Adapun langkah-langkah untuk pembelajaran tipe TS-TS adalah: Pertama, siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya heterogen. Kebetulan siswa berjumlah 32 sehingga jumlah kelompok ada 8. Kedua, setelah selesai, siswa diminta untuk membaca materi dari buku siswa. Ketiga, siswa berdiskusi dan menuliskan pada kertas atau media yang sudah disediakan tentang karakteristik anggota tata surya.

Keempat, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing akan bertamu ke kelompok yang lain. Kelima, dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas menerima kunjungan darimkelompok lain serta menjawab pertanyaan dari pengunjung. Keenam, tamu/siswa  mohon diri dan kembali ke kelompoknya sendiri dan melaporkan informasi mereka dari kelompok lain. Ketujuh, guru dan siswa mencocokkan atau meluruskan jawaban apabila terjadi kesalahpahaman. Terakhir, siswa memajang hasil karya siswa yang sudah dibuat pada tempat yang disediakan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kelebihan metode TS-TS antara lain bisa diterapakan pada semua kelas/tingkatan, lebih berorientasi pada keaktifan siswa, menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa. Sedangkan kelemahan metode ini adalah membutuhkan waktu yang relatif lama, siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompoknya, serta guru membutuhkan banyak persiapan dan guru kesulitan dalam pengelolaan kelas.

Namun begitu, metode ini membuat siswa lebih akrab dan pembelajaran berlangsung efektif. Siswa pun lebih bersemangat dalam pembelajaran. Ketika siswa bersemangat, guru pun lebih mudah untuk memberikan materi selanjutnya. (*)